Sagu: Menakar Hasil Tepung dan Potensi Bahan Makanan Indonesia yang Belum Dioptimalkan

Sagu dan potensi bahan makanan Indonesia
Sagu dan potensi bahan makanan Indonesia yang belum dioptimalkan. Dokpri.

Di tengah isu beras impor yang naik-turun harga, ada pohon sagu yang tumbuh liar di rawa-rawa Papua, Maluku, Riau, Kalimantan, hingga Sulawesi, tapi potensinya gila-gilaan.

Satu pohon sagu dewasa bisa jadi "penyelamat" karbohidrat buat keluarga berbulan-bulan. 

Tapi pertanyaan klasiknya: satu batang sagu berapa kilo sih tepung/aci/pati kering yang bisa dihasilkan?

150–300 kg tepung sagu kering per batang

Dari data yang dapat dikumpulkan (dokumen Kementan, FAO, dan penelitian lapangan), jawabannya rata-rata 150–300 kg tepung sagu kering per batang. Bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung varietas, umur pohon, sama cara ngolahnya.

Wikipedia (yang sering dikutip survei lapangan di Indonesia) bilang langsung: 150–300 kg pati per pohon. Ini yang paling sering muncul di sumber populer.

Dari dokumen resmi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau (Fahroji, 2011, repository pertanian.go.id): Secara teori 100–600 kg aci sagu kering per batang. Tapi realistisnya kalau pengolahan ideal (rendemen 15%), sekitar 185 kg dari empulur 1 ton. Kalau tradisional, ya lebih rendah.

Di lapangan, banyak cerita: di Kalimantan Timur, satu pohon bisa 150–250 kg. Di Papua/Maluku, ada yang bilang 200–400 kg pati kering kalau pohonnya gede dan varietas bagus (misalnya Molat atau Tuni). Bahkan ada kasus ekstrem sampe 480 kg basah (setelah kering jadi sekitar setengahnya).

FAO dan penelitian internasional (seperti Flach 1997) juga konfirmasi rentang 150–400 kg dry starch per trunk. Di proyek FAO Indonesia 2017, dengan mesin modern, satu batang bisa kasih 200 kg starch dalam 3 hari pengolahan.

Kenapa beda-beda? 

Perbedaan itu trjadi  karena beberapa faktor yang berikut ini:

  1. Varietas: Yang unggul (Molat, Tuni) bisa sampe 300–425 kg. Yang biasa (rotan) cuma 100-an kg.
  2. Umur panen: Optimal 8–15 tahun, pas empulur penuh pati (kadar pati bisa 18–25% berat basah).
  3. Pengolahan: Tradisional (pakai parut manual, peras tangan) rendemen rendah, banyak pati yang ikut ampas. Kalau pakai mesin modern (seperti di pabrik Riau atau proyek FAO), bisa naik 20–30%.
  4. Basah vs kering: Banyak yang bilang "480 kg sagu basah" dari satu pohon, tapi setelah dikeringin (hilang airnya), jadi 200–300 kg tepung kering yang siap dipake buat papeda, pempek, atau campur roti.

Satu batang sagu (diameter 50–80 cm, tinggi 10–15 m) empulurnya berat 500–1.800 kg. Dari situ diekstrak patinya, sisanya ampas (75–80%). Kalau kita punya kebun sagu 1 ha, bisa panen 25–50 batang per tahun, hasilnya puluhan ton tepung! Jauh lebih efisien daripada padi di lahan yang sama.

Makanan orang kota juga

Tapi sayangnya, di Indonesia masih banyak yang memandang sagu "makanan orang pedalaman" doang. Padahal ini aset nasional buat ketahanan pangan.

Baca Sagolicious : Ketika Sagu Naik Kelas di Meja Kota Jakarta

Kalau dikembangkan beneran (budidaya intensif + mesin pengolahan), kita bisa kurangin impor gandum/terigu, hemat devisa triliunan, dan bikin pangan lokal lebih kuat lawan perubahan iklim.

Penulis: Masri Sareb Putra

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org