Sagolicious : Ketika Sagu Naik Kelas di Meja Kota Jakarta
| Petrus Gunarso (kiri), salah seorang yang memperhatikan, penikmat, dan penulis buku sagu bersama dua sahabatnya Mering dan Masri menikmati menu utama sagu di restoran Sagolicious milik Jenny Widjaja. Dokpri. |
Sagolicious – Queen of Sago: ketika Sagu naik kelas di meja kota Jakarta. Kuliner dari pinggiran masuk ke pusat kota menerbitkan selera.
Di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di kawasan yang identik dengan gaya hidup modern. Sagolicious – Queen of Sago hadir dengan pendekatan yang berbeda. Tidak banyak restoran berani menjadikan sagu sebagai bintang utama. Di sini. justru itu yang ditonjolkan.
Sagu yang selama ini identik dengan kampung, ternyata jika dikelola betul, bukan kuliner kampungan. Dengan dapur sederhana. Diangkat ke ruang makan kota. Tanpa kehilangan jati dirinya. Tanpa menjadi sesuatu yang dibuat-buat. Ia tetap sagu. Tetapi tampil lebih percaya diri.
Yang datang pun beragam. Anak muda. Keluarga. Pekerja kantoran. Mereka tidak datang karena kebiasaan. Tetapi karena rasa ingin tahu. Dan dari situlah semuanya dimulai.
Ada pergeseran halus di sini. Orang kota mulai berani keluar dari pola lama. Tidak lagi terpaku pada nasi atau gandum. Mereka membuka diri pada bahan pangan lain. Dan ketika disajikan dengan cara yang tepat. sagu menjadi jawaban yang tidak diduga.
Menu sederhana. tetapi berkelas
Di meja makan. tidak ada yang berlebihan. Mi sagu disajikan dalam kuah bening. Hangat. Ringan. Rasanya tidak menabrak. Tetapi perlahan terasa.
Ada juga “nasi” sagu. Berwarna kekuningan. Karena kunyit. Sekilas seperti nasi biasa. Namun ketika disantap. teksturnya kenyal. Lebih ringan. Tidak membuat cepat berat di perut.
Beberapa menu lain mencoba pendekatan modern. Namun tidak menghilangkan inti. Sagu tetap terasa. Tidak ditutupi. Tidak disamarkan.
Di situlah kekuatan dapur ini. Kesederhanaan yang jujur. Tidak berisik. Tetapi mengena.
Yang menarik. rasa kenyang yang dihasilkan berbeda. Tidak berat. Tidak membuat mengantuk. Seolah tubuh menerima tanpa harus bekerja keras. Ini yang membuat banyak orang merasa lebih nyaman. Lebih ringan. Tetapi tetap cukup.
Pengalaman makan yang tidak ribut
Sagolicious bukan tempat yang mengejar sensasi. Ia tidak ramai dengan gimmick. Tidak sibuk menjelaskan dirinya.
Suasananya tenang. Bersih. Cukup. Orang datang. Duduk. Makan. Lalu pelan-pelan memahami.
Ada pengalaman yang sulit dijelaskan. Bukan hanya soal rasa. Tetapi soal perasaan cukup. Tidak berlebihan. Tidak kurang.
Mungkin karena sagu sendiri membawa karakter itu. Ia tidak memaksa. Tidak menonjolkan diri. Tetapi ketika diterima. ia tinggal.
Dan itu yang membuat banyak orang kembali.
Di tengah kota yang serba cepat. pengalaman seperti ini menjadi langka. Orang tidak hanya makan. Mereka berhenti sejenak. Menikmati. Dan tanpa sadar. menemukan ritme yang lebih pelan.
Sagu sebagai cerita, bukan semata-mata kuliner
Apa yang terjadi di Sagolicious bukan semata-mata soal makanan. Ini soal cara melihat kembali sesuatu yang lama.
Sagu berasal dari Maluku. Dari Papua. Juga dari sebagian wilayah Sulawesi. Dari tanah basah. Dari rawa. Dari hutan yang menyimpan sumber hidup. Dari masyarakat yang sejak lama menjadikannya pangan utama.
Kini hidangan utama serba-sagu hadir di Jakarta. Di ruang modern. Di tengah perubahan selera.
Sagu membawa cerita. Tentang asal-usul. Tentang identitas. Tentang kemungkinan.
Sagolicious menunjukkan satu hal sederhana. Bahwa yang lokal tidak harus tinggal di masa lalu. Ia bisa hidup di masa kini. Bahkan menjadi bagian dari masa depan.
Dan di meja makan kecil itu. sagu tidak lagi semata-mata makanan. Ia menjadi pernyataan. Diam. Tetapi jelas.
Ada harapan yang ikut tersaji di sana. Bahwa bahan pangan lokal. jika dikelola dengan serius. dapat berdiri sejajar dengan yang lain. Tidak kalah. Tidak tertinggal. Bahkan bisa memimpin dengan caranya sendiri.
Namun siapa sosok di balik resto dengan menu utama sagu bernama "Sagolicious" ini? Dialah Jenny Widjaja.
Kunjungi Jenny Widjaja, Bawa Sagu Indonesia Mendunia
Bagi Anda yang penasaran silakan ke sini: