Sawit dan Prakapitalisme Kampung-Kampung Dayak di Kalimantan
| Booming sawt turut dinikmati petani Dayak yang punya lahan dan kesempatan. Dokpri. |
Oleh Masri Sareb Putra
Ketika berbicara tentang prakapitalisme, kita tidak sedang membicarakan sesuatu yang usang atau tertinggal. Sebaliknya, kita sedang menyentuh satu lapisan kehidupan yang justru menjadi fondasi, akar yang menopang peradaban manusia sebelum logika pasar mengambil alih hampir seluruh sendi kehidupan.
Istilah "prakapitalisme" dalam kajian ilmu sosial merujuk pada sistem ekonomi dan sosial yang belum sepenuhnya digerakkan oleh akumulasi modal dan orientasi keuntungan.
Dalam karya klasik Julius Herman Boeke, Pre-Capitalism in Asia, dijelaskan bahwa masyarakat Asia, terutama di wilayah pedesaan, memiliki struktur ekonomi yang berbeda secara mendasar dari kapitalisme Barat.
Produksi tidak diarahkan untuk pasar semata, melainkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Relasi sosial lebih dominan daripada relasi ekonomi.
Bagi orang Dayak di Borneo, prakapitalisme bukanlah konsep. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Ia hadir dalam cara menanam padi, dalam cara membagi hasil hutan, dalam cara manusia berelasi dengan tanah, air, dan sesamanya.
Di kampung-kampung Dayak, ekonomi tidak berdiri sendiri sebagai sistem yang terpisah dari budaya. Ia menyatu dengan adat, dengan ritus, dengan kepercayaan. Padi bukan sekadar komoditas, melainkan kehidupan. Hutan bukan sekadar sumber kayu, melainkan ibu yang memberi makan.
Di sinilah prakapitalisme menemukan bentuknya yang paling hidup, bukan sebagai teori, melainkan sebagai praktik yang diwariskan lintas generasi.
Produksi Subsisten: Ekonomi yang Berakar pada Kehidupan
Salah satu ciri paling menonjol dari prakapitalisme di kampung Dayak adalah produksi subsisten. Orang Dayak menanam bukan untuk menjual, melainkan untuk hidup. Mereka menanam padi ladang, sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat dengan tujuan utama mencukupi kebutuhan keluarga dan komunitas.
Sistem berladang berpindah, yang sering disalahpahami sebagai perusak hutan, justru merupakan bentuk pengetahuan ekologis yang sangat maju. Tanah tidak dieksploitasi secara terus-menerus. Setelah beberapa musim tanam, lahan dibiarkan beristirahat, kembali menjadi hutan muda, memulihkan kesuburannya secara alami.
Di balik praktik ini, terdapat prinsip yang sederhana namun mendalam, manusia tidak boleh serakah terhadap alam.
Ekonomi seperti ini tidak mengenal konsep maksimalisasi keuntungan. Yang dikenal adalah kecukupan. Dalam bahasa Dayak, hidup yang baik bukanlah hidup yang berlimpah secara materi, tetapi hidup yang seimbang, antara manusia, alam, dan roh-roh leluhur.
Perburuan, meramu, dan menangkap ikan juga menjadi bagian dari sistem ini. Semua dilakukan secukupnya. Tidak ada eksploitasi berlebihan. Tidak ada akumulasi untuk menimbun.
Jika kapitalisme bertanya, berapa banyak yang bisa dihasilkan, maka prakapitalisme Dayak bertanya, berapa yang cukup untuk hidup hari ini dan esok.
Komunitas sebagai Pusat: Belarasa dan Gotong Royong
Di dalam masyarakat Dayak, individu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari komunitas. Relasi sosial menjadi pusat dari seluruh aktivitas, termasuk ekonomi.
Nilai yang menonjol adalah belarasa, rasa kebersamaan yang melampaui kepentingan pribadi. Ketika seseorang membuka ladang, ia tidak bekerja sendiri. Ada sistem gotong royong, menebas bersama, menanam bersama, panen bersama.
Hasil panen tidak sepenuhnya menjadi milik individu. Ada ruang untuk berbagi. Ada kewajiban moral untuk membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
Dalam konteks ini, kekayaan tidak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar seseorang mampu memberi.
Rumah panjang, sebagai simbol kehidupan kolektif Dayak, menjadi manifestasi nyata dari sistem ini. Di sana, kehidupan dijalani bersama. Duka dan sukacita dibagi. Tidak ada ruang bagi individualisme ekstrem seperti dalam masyarakat kapitalistik modern.
Struktur sosial ini menciptakan stabilitas yang luar biasa. Konflik dapat diminimalkan karena hubungan antarindividu diikat oleh adat dan nilai bersama.
Dengan kata lain, dalam prakapitalisme Dayak, ekonomi tunduk pada etika sosial. Bukan sebaliknya.
Tekanan Kapitalisme: Sawit, Tambang, dan Perubahan Lanskap
Dunia tidak pernah diam. Gelombang kapitalisme global perlahan tapi pasti masuk ke pedalaman Kalimantan Barat dan wilayah lain di Borneo.
Perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan berbagai bentuk investasi skala besar membawa logika baru, tanah sebagai komoditas, hutan sebagai sumber keuntungan, manusia sebagai tenaga kerja.
Di sinilah benturan terjadi.
Lahan-lahan adat yang selama ini dikelola secara kolektif mulai beralih fungsi. Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) seringkali diberikan tanpa melibatkan masyarakat adat secara memadai. Tanah yang dulunya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi aset ekonomi yang dikuasai pihak luar.
Bagi masyarakat Dayak, HGU dan HGB bukan sekadar kehilangan tanah. Ini adalah kehilangan identitas.
Deforestasi juga menjadi ancaman nyata. Hutan yang selama ini dijaga dengan kearifan lokal ditebang untuk kepentingan industri. Sungai tercemar. Satwa menghilang. Siklus ekologis terganggu.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah perubahan cara berpikir. Ketika uang mulai menjadi pusat, nilai-nilai lama perlahan tergerus. Gotong royong digantikan oleh transaksi. Belarasa tergantikan oleh kepentingan pribadi.
Masyarakat Dayak kini berada di persimpangan, mempertahankan cara hidup lama atau beradaptasi dengan sistem baru yang tidak selalu sejalan dengan nilai mereka.
Dari “Kutukan” ke “Berkat”: Jalan Tengah Menuju Masa Depan
Pada masa lalu, orang Dayak sering dipandang sebagai masyarakat pedalaman, terisolasi, tertinggal, bahkan dianggap tidak modern. Namun sejak dekade 1990-an, persepsi ini mulai berubah.
Wilayah pedalaman yang dulu dianggap tidak bernilai kini justru menjadi pusat perhatian karena kekayaan sumber daya alamnya. Apa yang dulu disebut kutukan, keterpencilan, berubah menjadi berkat.
Dahulu Dayak disebut "Darat" atau orang Udik. Mereka menguasai dan tinggal jauh dari pesisir, sebagai simbol pusat peradaban. Kemudian tata-dunia pemerintahan berseger. Pesisir ditinggalkan karena sempit. Pusat-pusat pemerintahan dan bandara dibangun di area yang luas di daratan.
Dayak menikmati kemepilikan tanah yang luas. Dayak punya lahan. Ketika sawit booming, Dayak menikmati "emas hijau" itu.
Namun, berkat ini datang dengan harga yang tidak kecil.
Masyarakat Dayak kini harus menghadapi tantangan besar, bagaimana tetap menjadi tuan di tanah sendiri, bagaimana menjaga identitas di tengah arus globalisasi, bagaimana mengelola sumber daya tanpa kehilangan nilai-nilai dasar.
Pendidikan, organisasi sosial, dan gerakan literasi menjadi kunci penting. Lembaga seperti Dayak Research Center memainkan peran strategis dalam mendokumentasikan, meneliti, dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Dayak.
Di sisi lain, kesadaran hukum juga semakin penting. Pengakuan terhadap hutan adat, perlindungan terhadap tanah ulayat, serta regulasi yang adil terkait HGU dan HGB harus diperjuangkan secara sistematis.
Namun yang paling penting adalah menjaga roh dari prakapitalisme itu sendiri, keseimbangan.
Masyarakat Dayak tidak harus menolak modernitas. Tetapi mereka juga tidak harus kehilangan jati diri. Jalan tengah perlu ditemukan, menggabungkan kemajuan ekonomi dengan pelestarian budaya dan lingkungan.
Prakapitalisme, dalam konteks ini, bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Ia justru dapat menjadi fondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan, pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga kehidupan.
Prakapitalisme dan cara pandang Dayak pada dunia
Prakapitalisme di kampung-kampung Dayak tidak semata-mata sebuah sistem ekonomi tradisional. Prakapitalisme adalah cara pandang terhadap dunia, sebuah filosofi hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa atasnya.
Di tengah krisis ekologis global dan ketimpangan ekonomi yang semakin tajam, mungkin justru dunia modern perlu belajar dari kampung-kampung Dayak, tentang cukup, tentang berbagi, dan tentang hidup yang selaras.
Pertanyaan paling mendasar bukanlah seberapa kaya kita bisa menjadi, tetapi seberapa lama kita bisa menjaga kehidupan itu sendiri.