Survei Produksi Gula Aren Skala Rumah Tangga di Kalimantan Barat (1) Sungai Utik sebagai Titik Mula
| Penulis di pelataran rumah panjang Sungai Utik: titik mula survei gula aren produksi lokal. |
Penulis melakukan survei kecil ke lokus produksi gula aren skala rumah tangga di wilayah timur Kalimantan Barat, tepatnya di Sungai Utik. Hasil survei dan perjalanan akan dinarasikan dalam serial tulisan yang dimuat media digital tercinta ini, mulai hari ini. Selamat mengikuti!
Produksi gula aren untuk konsumsi wilayah Timur Kalimantan Barat, berada nun jauh di hulu. Di dalam hutan Sungai Utik yang masih perawan.
Penulis ditemani Adil Bertus menyusuri jalan berliku, naik turun, malam baru tiba di rumah panjang Sungai Utik.
Saya berangkat ke Sungai Utik dengan bekal yang sederhana: nama, arah, dan sedikit rasa ingin tahu. Dalam bayangan, tempat itu tidak terlalu jauh. Ia hanya disebut berada di Kapuas Hulu, dekat perbatasan Malaysia. Kata “dekat” sering menipu. Ia terdengar ringan, padahal menyimpan kenyataan yang panjang.
Dari Sintang, perjalanan ke Sungai Utik ternyata hampir setara dengan menuju Pontianak. Sekitar 350 kilometer.
Jarak ini dalam konteks Kalimantan Barat bukan sekadar ukuran ruang. Ratusan kilometer adalah ukuran kesabaran. Jalan yang ditempuh bukan jalan yang sepenuhnya ramah. Aspal hanya menjadi bagian awal, lalu perlahan menghilang. Digantikan tanah merah, batu, lubang, dan jejak-jejak kendaraan yang membentuk jalurnya sendiri.
Perjalanan dimulai pagi hari. Kota Sintang ditinggalkan dengan cepat. Rumah-rumah berkurang. Lalu lintas menipis. Suara mesin kendaraan menjadi lebih dominan daripada suara manusia. Di kiri kanan, hutan berdiri dengan cara yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata “lebat”. Ia terasa tua. Seolah telah menyaksikan terlalu banyak peristiwa, tetapi memilih diam.
Di titik tertentu, saya mulai sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah lokasi. Ini adalah perpindahan dari satu cara hidup ke cara hidup yang lain. Dari ritme kota yang cepat ke ritme hutan yang tenang. Dari kepastian jadwal ke kemungkinan-kemungkinan yang tidak selalu bisa diprediksi.
Jarak 350 kilometer itu memanjang dalam pengalaman. Ia tidak bisa dipersingkat oleh keinginan. Ia harus dijalani. Perlahan. Sabar. Dan, pada akhirnya, diterima.
Delapan jam mengarungi jalan yang tidak selalu bersahabat
Saya tidak sendiri dalam perjalanan ini. Di balik kemudi, Adil Bertus mengemudikan mobil dengan cara yang membuat saya tenang. Ia lincah, tetapi tidak terburu-buru. Ia mengenal jalan. Atau setidaknya, ia tahu bagaimana menghadapi jalan yang tidak selalu bisa dikenali.
Kami berbincang seperlunya. Tidak banyak. Ada jeda-jeda panjang yang diisi oleh suara mesin dan gesekan roda dengan tanah. Dalam keheningan itu, perjalanan terasa lebih nyata. Setiap guncangan mobil menjadi pengingat bahwa kami sedang melintasi wilayah yang belum sepenuhnya ditaklukkan oleh infrastruktur.
Lebih dari delapan jam kami berada di perjalanan. Waktu yang di kota mungkin terasa lama, tetapi di sini menjadi relatif. Tidak ada yang benar-benar dikejar, selain tujuan yang perlahan mendekat. Jalan kadang menyempit. Kadang menanjak. Kadang seperti hilang, lalu muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Ada momen ketika kami harus melambat hampir berhenti. Ada pula saat-saat ketika mobil bisa melaju lebih cepat, seolah memberi jeda dari ketegangan. Namun secara keseluruhan, perjalanan ini menuntut konsentrasi. Ia tidak memberi ruang untuk lengah.
Tujuan saya jelas: menemui Apai Janggut. Nama itu sudah lama saya dengar dalam berbagai percakapan tentang masyarakat Dayak Iban dan perjuangan menjaga hutan. Ia bukan sekadar tokoh adat. Ia adalah simbol dari cara hidup yang bertahan di tengah tekanan zaman.
Saya datang untuk mewawancarainya. Untuk menulis biografinya. Namun di tengah perjalanan, saya mulai merasa bahwa yang akan saya temui bukan hanya seorang manusia saja, melainkan sebuah dunia. Dunia yang memiliki logika sendiri. Dunia yang tidak selalu mudah diterjemahkan ke dalam bahasa luar.
Perjalanan panjang ini, dengan segala ketidaknyamanannya, justru menjadi semacam persiapan. Ia memaksa saya untuk menyesuaikan diri. Untuk menurunkan ekspektasi. Untuk membuka ruang bagi pemahaman yang mungkin tidak datang dengan cepat.
Ketika hari mulai gelap, kami masih di jalan. Lampu mobil menjadi satu-satunya penuntun. Hutan di kiri kanan berubah menjadi bayangan. Tidak lagi terlihat jelas, tetapi terasa hadir. Ada suasana yang sulit dijelaskan, antara waspada dan kagum.
Dan kemudian, setelah lebih dari delapan jam, kami tiba.
Rumah panjang pusat kehidupan yang tetap bertahan
Sungai Utik menyambut kami dengan cara yang sederhana. Tidak ada gerbang besar. Tidak ada penanda yang mencolok. Namun ada satu hal yang langsung terasa: kehidupan yang terpusat.
Rumah panjang Sungai Utik berdiri sebagai inti. Bangunan itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang bersama. Tempat di mana kehidupan berlangsung dalam kebersamaan yang nyata. Dalam satu bentang, banyak keluarga hidup berdampingan. Berbagi ruang, berbagi waktu, berbagi cerita.
Kami tiba pada malam hari. Gelap sudah turun sepenuhnya. Namun dari dalam rumah panjang, cahaya terlihat. Hangat. Mengundang. Seolah mengatakan bahwa perjalanan panjang ini tidak berakhir sia-sia.
Joni Vercely menyambut kami. Ia diperkenalkan sebagai salah satu keturunan Apai Janggut. Sikapnya tenang. Tidak berlebihan. Ia tidak banyak bertanya, tetapi kehadirannya cukup untuk membuat kami merasa diterima.
Tidak ada formalitas yang kaku. Tidak ada jarak yang dibuat-buat. Sambutan berlangsung apa adanya, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ada kejujuran dalam cara mereka menerima tamu. Sesuatu yang mungkin mulai jarang ditemukan di tempat lain.
Saya memperhatikan sekeliling. Rumah panjang Sungai Utik itu hidup. Ada suara percakapan. Ada langkah kaki. Ada aktivitas yang masih berlangsung meski malam telah tiba. Ini bukan tempat yang berhenti ketika gelap datang. Ini adalah tempat yang terus berjalan, dengan ritmenya sendiri.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa Sungai Utik bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah komunitas. Ia adalah sistem nilai. Ia adalah cara hidup yang bertahan, bukan karena tidak berubah, tetapi karena tahu apa yang harus dipertahankan.
Sepiring nasi dan ikan yang perisa
Perjalanan panjang meninggalkan jejak pada tubuh. Lelah. Lapar. Haus. Dahaga. Semua terasa bersamaan. Kami tidak perlu mengatakannya. Tuan rumah sudah memahami.
Kami dipersilakan makan.
Hidangan yang disajikan sederhana: ikan sungai yang digoreng, sambal, dan nasi hangat. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang dibuat untuk mengesankan. Namun justru dalam kesederhanaan itu, ada sesuatu yang terasa utuh.
Kami makan dengan lahap. Tanpa banyak bicara. Setiap suap terasa berarti. Bukan hanya karena lapar, tetapi karena ada rasa diterima. Rasa bahwa kami tidak sedang menjadi orang luar yang sekadar lewat, melainkan tamu yang diberi tempat.
Ikan itu terasa berbeda. Mungkin karena segar. Mungkin karena dimasak dengan cara yang sederhana. Atau mungkin karena dimakan setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Sambalnya pedas, tetapi tidak berlebihan. Nasi hangatnya menjadi penyeimbang.
Tanpa terasa, nasi itu habis. Bahkan hampir tidak cukup. Namun tidak ada rasa kekurangan. Justru ada kepuasan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah apa yang dibutuhkan sudah terpenuhi, meski secara ukuran mungkin tidak banyak.
Di momen itu, saya menyadari sesuatu yang sederhana tetapi penting. Perjalanan panjang sering kali berakhir pada hal-hal yang tidak besar. Bukan pada pencapaian yang spektakuler. Bukan pada pengalaman yang dramatis. Melainkan pada perjumpaan yang jujur.
Sepiring nasi. Tiga ekor ikan. Sambutan yang tulus.
Semua itu cukup untuk mengubah cara pandang.
Saya datang ke Sungai Utik dengan niat menulis biografi Apai Janggut. Namun sebelum sempat bertemu dan mewawancarainya, saya sudah belajar sesuatu. Bahwa memahami sebuah tempat tidak bisa hanya melalui data atau cerita. Ia harus dialami. Dirasakan. Dijalani.
Dan perjalanan ini baru dimulai.
(Bersambung)