Sagu dan “Palma Kehidupan” di Relief Candi Borobudur
| Gambar Sagu dan “Palma Kehidupan” di Relief Candi Borobudur. Sumber: https://borobudurnews.com/peneliti-ungkap-63-spesies-tanaman-kuno-di-relief-candi-borobudur/ |
Oleh Masri Sareb Putra
Sagu dan “Palma Kehidupan”. Lukisan itu hadir bukan sebagai ornamen kosong di relief Candi Borobudur. Ia hadir sebagai jejak.
Lukisan itu ekspresi ingatan kolektif. Sebagai tanda bahwa pada suatu masa, manusia di Nusantara hidup bersentuhan langsung dengan alam yang memberi makan.
Realitas di balik gambar
Relief itu bukan hanya ukiran batu yang kasat-mata. Benda itu adalah narasi yang membeku. Mengabadikan keseharian. Mengabadikan cara hidup. Mengabadikan relasi manusia dengan sumber hidupnya.
Metroxylon sagu bukan hanya pangan. Ia adalah penopang peradaban. Palma bukan sekadar pohon. Ia adalah simbol daya tahan. Ketekunan. Kesetiaan pada siklus alam.
Baca Sagu: Menakar Hasil Tepung dan Potensi Bahan Makanan Indonesia
Tidak mungkin sang pemahat bekerja dari ruang hampa. Ia melihat. Ia mengalami. Ia menyerap kehidupan di sekitarnya. Lalu memindahkannya ke batu. Dengan ketelitian. Dengan rasa. Dengan kesadaran akan waktu yang melampaui dirinya.
Maka sagu di Borobudur adalah fakta. Sekaligus tafsir. Ia berbicara tentang ekologi. Tentang ekonomi lokal. Tentang budaya makan. Tentang spiritualitas yang tidak terpisah dari alam. Di sana, batu menjadi hidup. Dan kehidupan menjadi abadi.
Di candi Borobudur, pohon Sagu dan palma lain itu berdiri tegak di antara manusia yang sibuk, mungkin sedang memanen atau memasak. Menggambarkan realitas bahwa sagu sudah menjadi makanan pokok sebelum padi mendominasi.
Relief itu bukan khayalan. Beberapa panel di Borobudur, khususnya dalam kelompok yang disebut “palma kehidupan”, menampilkan empat jenis pohon palem secara berdampingan: lontar yang daunnya untuk lontar, aren yang manis getahnya, nyiur atau kelapa yang serbaguna, dan sagu yang batangnya penuh pati putih.
Baca Bambang Haryanto, Profesor Ugahari Pakar Sagu
Gambaran itu muncul sebagai latar kehidupan masyarakat Jawa Kuno, mencerminkan realitas ekologis dan budaya saat itu.
Sagu adalah makanan asli kita
Profesor Nadirman Haska, peneliti sagu Indonesia, pernah menyatakan dengan tegas bahwa sagu adalah makanan asli kita. Ia menunjuk relief Borobudur sebagai bukti bahwa sagu sudah dikenal sejak kerajaan Buddha berkembang di Nusantara.
Dalam bahasa Jawa, nasi disebut “sego”. Hipotesisnya: akar kata “sego” dan “sagu” sama, menunjukkan sagu dulu adalah makanan pokok sebelum beras datang dibawa pengaruh Hindu dari India.
Baca Sagu Molat di Depan SAGOLICIOUS CAFE & RESTO
Studi identifikasi flora di relief Lalitavistara Borobudur menemukan setidaknya 63 spesies tumbuhan yang digambarkan dengan detail botanik akurat.
Meski studi itu tidak secara eksplisit menyebut “sagu” (Metroxylon sagu) sebagai satu spesies teridentifikasi, banyak sumber sejarah dan media kredibel mengaitkan kelompok palma tersebut dengan sagu sebagai bagian dari “palma kehidupan”.
Sagu bukan tanaman asli Jawa (lebih dominan di Maluku dan Papua), tapi kehadirannya di relief membuktikan jaringan perdagangan antar pulau sudah erat.
Kapal-kapal Borobudur yang terukir di panel lain menjadi bukti hidup: Nusantara sudah terhubung. Dan penting dicatat, tak ada gambaran padi di kelompok palma itu.
Sagu raja pangan era Kejayaan Sailendra
Jika kita mundur ke abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Kita akan masuk Dinasti Sailendra yang berkuasa di Jawa Tengah dan membangun Borobudur. Menjadi monumen Buddha Mahayana terbesar di dunia.
Baca Ulat Sagu: Makanan Hutan yang Disukai Orang Dayak
Candi Borobudur adalah ensiklopedia batu tentang kosmologi Buddha: Kamadhatu di kaki, Rupadhatu di galeri, Arupadhatu di puncak. Relief-reliefnya, total lebih dari 2.600 panel, menceritakan Jataka, Avadana, Lalitavistara, hingga Karmawibhangga yang mengajarkan hukum karma melalui adegan kehidupan nyata.
Di tengah semua itu, sagu muncul sebagai bagian dari “kehidupan sehari-hari” yang realistis. Masyarakat Jawa Kuno berladang, berburu, berdagang, dan memproses makanan.
Pohon sagu yang terukir menunjukkan pati sagu sudah menjadi makanan pokok sebelum padi mendominasi.
Petani pada ketika itu menebang batang sagu yang matang, merendam empulurnya, mengayak patinya hingga putih bersih, lalu mengolahnya menjadi papeda, sagu lempeng, atau makanan fermentasi. Di relief, pohon itu berdiri tegak di antara manusia yang sibuk, mungkin sedang memanen atau memasak.
Sagu telah lama, beras pendatang baru
Nadirman Haska menegaskan sagu sudah ada sejak kerajaan Buddha. Bukti relief Borobudur dan beberapa prasasti memperkuatnya.
Beras adalah “pendatang” dari India. Di Papua dan Maluku hari ini, sagu masih makanan pokok, yakni papeda kenyal dimakan dengan ikan kuah kuning.
Baca Sagolicious : Ketika Sagu Naik Kelas di Meja Kota Jakarta
Di Jawa dulu? Sama saja. “Sego” bukan kebetulan; itu ingatan kolektif.
Saat candi dibangun sekitar 760-830 M, Jawa gemerlap dengan perdagangan rempah dan pengetahuan agraris. Sagu melambangkan ketahanan: tumbuh di tanah basah, tahan banjir, tak butuh pupuk kimia. Di era perubahan iklim sekarang, pesan itu sangat relevan.
Para pematung zaman itu tak cuma mengukir Buddha, tapi juga pohon sagu sebagai pengingat bahwa pencerahan tak lepas dari bumi yang memberi makan.
Sagu bukan hanya makanan, juga pelajaran hidup
Relief bukan foto; ia simbol. Dalam Karmawibhangga, adegan kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan karma.
Pohon sagu, yang memberi pati melimpah setelah ditebang (pohon sagu ditebang saat mau berbunga, lalu mati setelah panen sekali seumur hidup), mirip konsep anicca Buddha: ketidakabadian. Tapi juga simbol kemurahan alam. Manusia menebang, alam memberi lagi lewat tunas baru. Empulur putih sagu seperti jiwa murni, dibersihkan untuk makanan suci.
Dalam Mahayana, Borobudur ajarkan jalan Bodhisattva yang memancarkan kasih sayang universal. Sagu yang bisa memberi makan banyak orang dengan sedikit usaha (satu pohon ratusan kilo pati) melambangkan bodhicitta: hati memberi tanpa pamrih. Panel itu ditempatkan dekat adegan manusia berinteraksi dengan alam: nelayan, petani, pedagang. Maknanya: ketahanan pangan adalah bagian dari dharma.
Sagu kontras dengan padi yang butuh irigasi rumit. Sagu tumbuh liar di rawa, adaptif. Itu pesan ekologis: jangan bergantung satu tanaman. Di era kerajaan, sagu dari timur jadi jembatan budaya. Makna simbolisnya universal: ketahanan, kemurahan, ingatan leluhur. Sagu bukan masa lalu; ia panggilan kembali ke akar.
Di relief, sagu dikelilingi kelapa, aren, lontar; semua palem memberi: minyak, gula, tulis, pati. Itu “palma kehidupan” utuh. Maknanya adalah: Nusantara kaya, beragam, saling melengkapi. Hidup seperti sagu yang tegar di rawa, memberi saat ditebang, tunas baru lahir. Itu ajaran Buddha tersembunyi di balik batu.
Dari relief Borobudur ke meja makan
Hari ini sagu masih pahlawan tak dikenal. Di Papua ia selamatkan ribuan orang dari kelaparan. Di Jawa kita lupa. Tapi Borobudur mengingatkan: sagu adalah warisan. Pemerintah dorong sagu sebagai pangan alternatif ; tahan iklim, gluten-free, rendah indeks glikemik. Pabrik sagu di Sorong, Maluku, dan Papua Barat bangkit lagi. Relief itu blueprint untuk ketahanan pangan nasional.
Bayangkan sagu lempeng dengan ikan bakar, papeda di acara adat, atau mie sagu modern. Anak sekolah diajar bahwa “sego” leluhur adalah sagu, bukan beras impor. Di tengah krisis pangan global, Borobudur berteriak: kembali ke sagu!
Saya tutup dengan hati penuh. Berdiri di Borobudur, sentuh relief itu. Rasakan getarannya. Sagu bukan sekadar pohon; ia cerita tentang kita. Yakni bangsa tangguh, kaya, penuh kasih.
Dari abad ke-8 hingga kini, pesannya sama: hormati bumi, makan dari akar, wariskan ke generasi.
Warisan bukan untuk dikagumi, tapi dihidupkan. Mari hidupkan sagu. Borobudur sudah berbisik. Sekarang giliran kita menjawab.
Daftar Pustaka
Bisnis.com. 2016. "Misteri Relief Candi Borobudur dan Kisah Sagu." Diakses 25 Maret 2026. https://ekonomi.bisnis.com/read/20160101/99/506285/misteri-relief-candi-borobudur-dan-kisah-sagu
Data Tempo. 2011. "Relief Sagu di Borobudur." Diakses 25 Maret 2026. https://data.tempo.co/MajalahTeks/detail/ARM20180612155394/relief-sagu-di-borobudur
Inibaru.id. 2021. "Terukir di Relief Candi Borobudur, Bukti Nasi Bukan Asli Indonesia." Diakses 25 Maret 2026. https://inibaru.id/kulinary/terukir-di-relief-candi-borobudur-bukti-nasi-bukan-asli-indonesia
Medcom.id. 2015. "Sagu, Salah Satu Palma Kehidupan." Diakses 25 Maret 2026. https://www.medcom.id/ekonomi/mikro/8koYMWRN-sagu-salah-satu-palma-kehidupan
Metusala, D., Fauziah, Lestari, D.A., et al. 2020. The identification of plant reliefs in the Lalitavistara story of Borobudur Temple, Central Java, Indonesia. Biodiversitas 21(5): 2206-2215.