Bambang Haryanto, Profesor Ugahari Pakar Sagu

Prof. Bambang Haryant
Prof. Bambang Haryanto. Ist.

Prof. Bambang Haryanto bersama Petrus Gunarso, Jenny Widjaja, Rajah Indrayana, dan Masri Sareb Putra pada 2025 meneliti dan menerbitkan buku Sagu Indonesia untuk Kedaulatan Pangan Dunia

Buku ini mendapatkan sambutan hangat. Diluncurkan dan dibahas di Bappenas, dengan menampilkan Menteri Bappenas/Wakil serta dihadiri masyarakat sagu Indonesia.

Akar Pendidikan, Arah Hidup

Lahir pada 17 Maret 1954 di Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Bambang Haryanto tumbuh dalam keluarga guru yang menanamkan satu keyakinan mendasar, pendidikan adalah bekal hidup yang tak bisa hilang ditelan zaman. 

Baca Sagu : Buku Pemandu Komprehensif yang Diteliti dan Ditulis para Pakar

Bambang Haryanto menempuh pendidikan awal di Kanisius Weleri sebelum pindah ke Salatiga pada 1968. Di kota itu ia menyelesaikan SMP hingga SMA, membangun disiplin dan daya tahan intelektual.

Tahun 1974 Bambang Haryanto diterima di Institut Pertanian Bogor, mengambil Teknologi Hasil Pertanian. Skripsinya tentang karakteristik fisiko kimia pati garut menandai awal keterlibatannya pada isu pangan lokal. Dari sini terlihat arah yang konsisten, ia tidak sekadar belajar ilmu, tetapi mulai membaca potensi bahan pangan Nusantara sebagai kekuatan masa depan.

Menemukan Panggilan di Dunia Riset

Kariernya dimulai di Departemen Perdagangan pada 1979 di Kendari, namun segera terasa bahwa jalur itu tidak memberinya ruang tumbuh. Tahun 1980 ia beralih ke BPPT, sebuah keputusan yang mengubah seluruh trajektori hidupnya.

Baca Ulat Sagu: Makanan Hutan yang Disukai Orang Dayak

Di BPPT, Bambang Haryanto menekuni penelitian sagu dan karbohidrat. Studi S-2 pada 1987 mengkaji model penjemuran pati sagu sebagai sistem pengeringan tradisional masyarakat. Ia tidak melihat tradisi sebagai sesuatu yang usang, melainkan sebagai pengetahuan yang bisa dimodelkan dan dikembangkan. 

Disertasinya pada 2002 tentang pengujian kematangan durian dengan gelombang ultrasonik memperlihatkan kemampuannya menjembatani pangan dan teknologi modern.

Selama bertahun tahun, Bambang Haryanto menulis di jurnal nasional dan internasional, membangun reputasi sebagai peneliti yang tekun, sistematis, dan konsisten pada tema pangan berbasis sumber daya lokal.

Sagu, Ilmu, dan Gagasan Besar

Puncak akademik Bambang Haryanto datang pada 2014 saat ia dikukuhkan sebagai Profesor Riset. Orasinya menegaskan satu hal penting, sagu bukan sekadar pangan alternatif, tetapi bagian dari strategi besar ketahanan pangan Indonesia.

Sepanjang hidupnya, ia menghasilkan tiga paten dan menulis delapan belas buku. Tiga buku tentang sagu menjadi tonggak penting dalam literasi pangan nasional. Melalui karya karya itu, ia tidak hanya menyumbang pengetahuan, tetapi juga membentuk cara pandang baru terhadap sagu.

Bambang Haryanto pada peluncuran buku Sagu di Bappenas.
Bambang Haryanto (paling kiri) pada peluncuran buku "Sagu" di Bappenas  Jumat, 17 Oktober 2025. Bersama tim penulis buku Jenny Widjaja, Febrian Alphyanto Ruddyard,Masri Sareb Putra, Petrus Gunarso, dan Rajah Indrayana.

Prof. Bambang Haryanto bersama Petrus Gunarso, Jenny Widjaja, Rajah Indrayana, dan Masri Sareb Putra pada 2025 meneliti dan menerbitkan buku Sagu Indonesia untuk Kedaulatan Pangan Dunia. 

Buku yang merupakan seri II dari "Palma Tropika Indonesia untuk Dunia" ini mendapatkan sambutan hangat. Diluncurkan dan dibahas di Bappenas, dengan menampilkan Menteri Bappenas/Wakil serta dihadiri masyarakat sagu Indonesia.

Bagi Bambang Haryanto, sagu adalah jalan tengah antara tradisi dan modernitas. Ia menghubungkan hutan, masyarakat lokal, dan teknologi dalam satu ekosistem pengetahuan. Dalam konteks krisis pangan global, gagasan ini menjadi semakin relevan. 

Sagu tidak membutuhkan input besar seperti beras, tahan terhadap perubahan iklim, dan tumbuh di wilayah yang selama ini terpinggirkan dalam kebijakan pangan.

Jejak Sitasi dan Otoritas Akademik

Di luar laboratorium dan ruang kebijakan, jejak Bambang Haryanto juga tercermin dalam pengaruh akademiknya. Karyanya telah dikutip sebanyak 754 kali, dengan 388 kutipan sejak 2021. Ia memiliki indeks h sebesar 13 dan indeks i10 sebesar 14, menunjukkan konsistensi kontribusi ilmiah yang diakui dalam komunitas riset.

Salah satu karya pentingnya, Potensi dan Pemanfaatan Sagu yang ditulis bersama P. Pangloli pada 1992, menjadi rujukan utama dengan lebih dari 271 sitasi. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa gagasan tentang sagu yang ia bangun telah melampaui ruang kelas dan laboratorium, masuk ke percakapan ilmiah yang lebih luas.

Bidang yang ia tekuni, teknologi karbohidrat, menempatkannya dalam posisi strategis di tengah isu pangan global. Dalam lanskap akademik yang kompetitif, konsistensi sitasi ini menegaskan bahwa Bambang bukan hanya produktif, tetapi juga relevan.

Dari Peneliti Menjadi Penggerak

Setelah purnabakti dari BPPT yang kini menjadi BRINBambang Haryanto tetap aktif mengajar di Universitas Sahid Jakarta. Namun perannya telah meluas, dari peneliti menjadi penggerak gagasan.

Kolaborasi tahun 2025 menjadi penegasan penting. Buku Sagu Indonesia untuk Kedaulatan Pangan Dunia mempertemukan riset dengan kebijakan. Peluncuran buku ini diadakan di Bappenas menandai bahwa sagu tidak lagi berada di pinggiran diskursus, tetapi masuk ke pusat perencanaan pembangunan.

Dalam narasi yang lebih luas, Bambang Haryanto berdiri sebagai figur yang menjembatani dunia kampus, riset, dan kebijakan publik. Ia tidak hanya meneliti, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang. 

Sekitar dua dekade terakhir, Prof. Bambang Haryanto aktif berbicara di berbagai forum, mengingatkan bahwa ketergantungan pada satu komoditas pangan adalah kerentanan strategis.

Sagu, dalam pandangannya, adalah jawaban yang telah lama ada namun belum sungguh sungguh dipeluk. 

Dari laboratorium hingga ruang kebijakan, ia menempuh jalan panjang untuk memastikan bahwa jawaban itu tidak lagi diabaikan.

Penulis: Masri Sareb Putra

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org