Survei Produksi Gula Aren Skala Rumah Tangga di Kalimantan Barat (2) Tuak Nira Malam Hari yang Menghangatkan Badan

 

Minum tuak nira enau sembari ngobrol aduhai nikmatnya.
Minum tuak nira enau sembari ngobrol di malam hari aduhai nikmatnya. Kika: Igoh, saya (penulis), Adil Bertus, dan Apai Janggut.

Gelap turun perlahan, menyelimuti rumah panjang Sungai Utik. Tiang-tiang kayu belian menjulang tegak. Galang dan tangga membentuk pola yang rapi, seolah menahan langit malam sendiri. 

Lampu minyak di bilik-bilik memancarkan cahaya hangat, kuning redup. Menari-menari di permukaan kayu, membentuk bayangan yang bergerak pelan, seperti naga kecil yang mengintip dari dinding. 

Tiap ukiran di kayu, dari perahu, pohon, burung, hingga manusia, bergetar, seolah bernyanyi, bercerita, dan menunggu untuk didengar.

Baca Survei Produksi Gula Aren Skala Rumah Tangga di Kalimantan Barat (1) Sungai Utik sebagai Titik Mula

Di luar, sungai berkilau lembut, permukaannya bergetar oleh embusan angin dan nyanyian satwa malam. Burung hantu menegur di kejauhan. Jangkrik mengiringi ritme langkah kaki. Daun gugur menari perlahan sebelum mendarat di tanah basah. 

Aroma tanah basah bercampur daun gugur dan nira enau memenuhi udara. Setiap napas terasa penuh. Membawa rasa malam yang hidup, seakan alam sendiri menghela napas bersamamu.

Lorong, bilik, dan jejak manusia

Kami berjalan perlahan di lorong rumah panjang, kayu berderit lembut di bawah langkah kaki, suara yang mengingatkan bahwa setiap langkah berarti. 

Lampu minyak menyorot ukiran kayu yang memantul di dinding. Bayangan seperti menari, meniru bentuk tubuh kami, seperti hantu masa lalu yang tersenyum dan menunggu. Apai Janggut duduk di tikar, menatap kayu dengan mata yang seolah menembus malam dan menembus hati kami.

“Ini bukan sekadar rumah,” kata Apai Janggut . Suaranya lembut tapi menegaskan. “Ini jejak tangan dan hati manusia. Setiap tiang, galang, dan tangga dibawa dengan susah payah, menanggung cerita dan doa.”

Aku menyentuh kayu belian, dingin tapi halus. 

Garis-garis kapak, bekas tangan, lekuk yang rapi; semua seperti nadi manusia yang masih berdenyut. Kamar tamu tersedia, dengan WC di dalam dan AC standar bule. Aku menikmati fasilitas itu, nyaman, namun tetap merasa bagian dari alam yang menunggu di luar.

Tuak nira di malam hari menghangatkan badan

Di tikar rumah panjang, cawan-cawan diisi tuak nira dari ceret yang tak pernah pelit untuk dituangkan. Aroma manis dan lembutnya naik memenuhi udara malam. Kami duduk melingkar, menyeruput perlahan, merasakan hangatnya meresap ke tubuh, menenangkan dan membangkitkan rasa belarasa. Suara jangkrik, desir angin, dan riak sungai menjadi latar musik alam yang tak tergantikan.

Enau bukan hanya untuk gula bagi orang Dayak. Air segarnya kerap langsung diminum, setelah diberi sedikit kulit kayu khusus untuk menangkal dosis sianida. Air nira itu paling enak diminum lepas sehari. Selain manis, rasanya bagai bir, mengeluarkan busa alami yang menambah kesan hidup dan hangat saat diminum.

Kami mengobrol, Apai Janggut bercerita tentang rumah panjang Sungai Utik, kayu belian, tangga, galang, dan bagaimana semua dibangun tanpa alat berat. Kata-katanya mengalir bersama tuak, hangat dan perlahan, menempel di udara malam.

“Investor sering datang menawarkan uang,” katanya, menyeruput tuak, “tapi seberapa pun banyaknya, itu akan habis, tak bisa diwariskan. Hutan adat ini, jika dipelihara dan dijaga, tidak akan pernah habis. Anak cucu akan tetap merasakan udara, sungai, dan malam seperti ini.”

Kami tertawa, mengangguk, dan menyeruput lagi. Tuak nira hangat meresap, membawa rasa nyaman, membangkitkan rasa belarasa dengan malam, hutan, dan rumah panjang. Percakapan kami menjadi bagian dari malam itu, seolah setiap kata menempel di udara dan di pepohonan di luar.

Hutan berbicara

Kami keluar sebentar, berjalan di tepi sungai. Suara hutan bersatu dengan malam: angin bergesekan di daun, air sungai berdesah, satwa malam bersahutan. Pohon-pohon tinggi tampak hidup, menunggu kami membaca bahasa mereka. Apai Janggut menepuk batang kayu dan menunduk ke sungai.

“Kalau hutan ini dijual atau ditebang, anak cucu tidak akan mengenal udara ini, suara ini, malam ini. Tapi jika dijaga, semua akan hidup abadi,” ucapnya.

Serangga malam mulai ramai, nyanyiannya mengisi ruang, seperti orkestra alam yang menutup setiap celah keheningan. Tuak di tikar menghangatkan perut dan hati. Setiap tetesnya mengalir bersamaan dengan suara malam, menegaskan keberanian dan kesadaran akan tanggung jawab menjaga alam.

Malam yang tidak pergi

Kembali ke rumah panjang. Kami duduk di tikar. Lampu minyak bergetar lembut. Di lorong-lorong, bayangan bergerak mengikuti kami, di bilik-bilik, cahaya menempel di kayu, menyorot ukiran, menari di dinding. Suara burung malam, angin, air sungai, dan jangkrik menyatu menjadi simfoni yang hidup.

Aku memejamkan mata. Menikmati kenyamanan kamar. AC tak kunyalakan, sebab malam itu sejuk. Di ujung bumi ada fasilitas modern, namun tetap terhubung dengan hutan yang hidup di luar. Apai Janggut menatap kami. Matanya menyalakan sesuatu di hati.

Seiring musik serangga malam yang kian ramai, bagai simfoni alam yang menenangkan, kami terlelap, dibuai mimpi. 

Rumah panjang tetap berdiri, sungai tetap mengalir, hutan tetap berbisik malam di Sungai Utik tidak pergi. Ia tinggal di hati kami, abadi, mengisi setiap sudut ingatan, aroma, suara, dan cahaya.

(Bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org