Survei Produksi Gula Aren Skala Rumah Tangga di Kalimantan Barat (3): Alur Nira Orang Iban

Ada teknik agar enau meneteskan nira banyak
Ada teknik agar pohon enau meneteskan nira banyak, yakni ketika meninggur sembari menimangnya dengan nyanyian/mantra. Ist.
Di bilik rumah panjang Sungai Utik, sejuknya udara meresap hingga ke tulang. Damai dan hening. Membuat tidur kami begitu pulas. 

Esok paginya. Kami terbangun.  Tubuh bugar. Pikiran segar. Seolah mendapat kehidupan baru. 

Tidak ada bunyi kota. Tidak ada deru mesin. Hanya suara alam yang lembut. Dan napas orang-orang yang juga baru terjaga. Kualitas tidur seperti ini, sederhana tapi mahal, karena di dunia luar sulit ditemukan.

Sarapan kami sederhana, khas kampung: nasi hangat, lauk pauk seadanya, tetapi bagi orang kampung, “seadanya” bisa berarti tiga jenis lauk berbeda yang lengkap, mengenyangkan, dan menyehatkan. 

Secangkir kopi panas berpadu manis gula aren yang dalam khasanah ilmiah disebut Arenga, menuntun kesadaran kami penuh rasa syukur. Rasa yang lahir dari kesederhanaan, dari tanah, dari hutan yang masih dijaga.

Ke lokus produksi gula aren

Tak lama setelah itu, kami berangkat ke lokus produksi gula aren. Jalanan masuk ke dalam hutan, tetapi tak terlalu jauh dari rumah panjang. 

Mobil berguncang perlahan di jalan setapak, dan di samping saya, Joni Vercelly menjadi pemandu yang tidak hanya menunjukkan arah, tapi juga membuka tabir sejarah dan hak adat. 

Sepanjang perjalanan. Joni Vercelly menceritakan asal-usul hutan adat ini. Bagaimana orang Iban mendapatkannya secara turun-temurun. Dan bagaimana pentingnya menjaga serta memelihara hutan agar tetap hidup. 

Cerita itu tidak sekadar tentang tanah atau pohon, tapi tentang belarasa orang Iban terhadap alam yang menyatu dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Alur nira orang Iban dan keterampilan meninggur yang kian langka

Di tengah cerita. Muncul satu hal yang cukup merisaukan hati Vercelly. 

Tentang air nira yang mengalir deras dari pohon enau. “Untuk mendapatkan air nira itu mengalir deras dan banyak, ada triknya,” katanya serius. 

Vercelly menekankan, kadangkala orang awam tidak memahami hal itu. Berbicara kepada alam dengan bahasa alam. Tidak paham akan proses yang benar. 

“Ada tata cara dan prosesnya, terutama menurut orang Iban,” jelasnya.

Sebelum pohon enau memberi nira  cairan yang berlimpah, ada proses penting. Yakni meninggur atau pengetokan tangkainya. Disertai dengan pamit, berpinta, diiringi dengan mantra. "Tak banyak orang Iban cakap terkait 'ilmu' ini," terang Vercelly. "Keterampilan meninggur ini sudah semakin langka!"

Enau adalah makhluk hidup. Ia bagian dari alam. Untuk itu, manusia perlu menempatkannya sebagai bagian dari kehidupan. 

Untuk mengambil air niranya, perlu pamit, perlu izin. Ini bukan berhala, ini perkara menjaga keseimbangan alam semesta. Yang satu diambil maka mesti ada gantinya. Tata cara ini bukan sekadar teknik, melainkan pengetahuan yang diwariskan, penuh respek terhadap alam dan pohon enau yang memberi. 

Setiap tetes nira bukan hanya manis di lidah, tetapi juga manis karena perjalanan dan aturan yang menghormati hutan.

Langkah kami semakin dekat dengan lokasi produksi guka aren. 

Aroma manis yang samar mulai tercium, mengiringi suara daun yang tergesek angin. Saya menatap Joni, yang penuh keyakinan menjaga hutan dan tradisi. 

Dari situ, saya menyadari. Bahwa gula aren bukan sekadar bahan makanan. Gula aren adalah simbol, cerita, dan hak orang Iban yang mengalir dari hutan hingga ke cangkir kopi kami.

(Bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org