Menimbang Sawit Secara Jernih di Tengah Riuh Narasi
| Sawit untuk negeri, karya dua pakar dari disiplin ilmu berbeda yang saling melengkapi. Ist. |
Kelapa sawit telah menjadi komoditas penting di negeri kita, bumi Pancasila.
Dari petani kecil di desa, pengepul di tingkat lokal, hingga pabrik dan eksportir di hilir, semua menikmati denyut ekonomi dari tanaman yang berasal dari Afrika ini.
Booming sawit, dalam banyak hal, telah menjelma menjadi sumber kemakmuran. Gagasan inilah yang menjadi napas utama buku karya Prof. Dr. A. B. Susanto dan Ir. Petrus Gunarso, Ph.D., Sawit untuk Negeri, yang terbit tahun 2022 oleh Penerbit Buku Kompas, setebal xxxiii + 260 halaman.
Namun, buku ini tidak berhenti pada pujian. Ia berangkat dari pertanyaan sederhana namun tajam: apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “sawit”?
Dalam berbagai diskusi, sawit kerap diidentikkan dengan deforestasi, emisi gas, eksploitasi, bahkan kepunahan. Tidak sedikit orang mengecam keberadaannya, sehingga potensi dan kebenaran yang lebih utuh kerap terabaikan.
Penulis menyebut situasi ini sebagai bagian dari era post-truth, ketika fakta kerap diseleksi untuk mendukung narasi tertentu.
Sawit sebagai Penopang Kehidupan
Dari titik itu, buku ini mengajak pembaca melihat sawit secara lebih jernih. Sawit bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang luas. Selain sebagai penggerak utama ekonomi Indonesia, keberadaannya telah memberi harapan bagi jutaan masyarakat. Di banyak daerah, sawit menjadi tumpuan hidup. Ia membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menciptakan efek pengganda yang nyata.
Lebih jauh, buku ini juga mengingatkan bahwa sawit memiliki dimensi yang sering luput dari perhatian. Buah sawit mengandung berbagai manfaat bagi kesehatan dan memainkan peran penting dalam rantai makanan. Dengan perspektif ini, sawit tidak lagi dipandang hitam putih, melainkan sebagai sumber daya yang perlu dikelola secara bijak.
Mengelola, bukan menghakimi
Di sinilah kekuatan utama buku ini. Ia tidak terjebak dalam dikotomi pro dan kontra. Sebaliknya, penulis membuka ruang refleksi. Jika ada persoalan dalam industri sawit, maka yang perlu dibenahi adalah tata kelolanya. Perbaikan harus dilakukan di berbagai tingkat, mulai dari kebijakan publik, praktik industri, hingga kesadaran konsumen.
Buku ini hadir untuk menjawab kebutuhan akan pandangan yang lebih objektif terhadap sawit. Selain membahas aspek keberlanjutan, pembaca juga diajak memahami aktivitas pengolahan sawit serta para pelaku di dalamnya. Dengan demikian, diskursus tentang sawit tidak lagi berat sebelah, melainkan lebih utuh dan proporsional.
Kolaborasi Penulis dan Sentuhan Editor
Kolaborasi antara Prof. A. B. Susanto dan Petrus Gunarso memberi bobot tersendiri. Susanto dikenal sebagai konsultan strategis di bawah The Jakarta Consulting Group dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Sementara itu, Petrus Gunarso memiliki pengalaman panjang sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Kehutanan selama lebih dari tiga dekade, serta terlibat dalam berbagai lembaga nasional dan internasional di bidang lingkungan.
Buku ini diedit oleh Masri Sareb Putra. Selain dikenal sebagai sastrawan, ia juga merupakan petani kecil sawit di Borneo. Posisi ini memberi perspektif yang unik. Sentuhan editorialnya tidak hanya menjaga alur tetap jernih dan komunikatif, tetapi juga menghadirkan kepekaan lapangan, suara dari akar rumput yang sering kali absen dalam perdebatan besar tentang sawit.
Pustaka Sawit untuk Negeri bukan hanya buku tentang komoditas. Ia adalah ajakan untuk melihat dengan lebih jernih, menimbang dengan lebih adil, dan bertindak dengan lebih bijak.
Di tengah riuhnya perdebatan, buku ini menjadi ruang jeda yang menenangkan sekaligus mencerahkan.
Book reviewer: Maria Amanda