Jawa Timur, Raja Gula Aren di Indonesia

Jawa Timur, Raja Gula Aren di Indonesia
Penulis mengamati proses perebusan nira aren di tungku api sampai menjadi gula-merah di sebuah rumah produksi tradisional. Ist.

Oleh: Masri Sareb Putra

Saya kerap mendapat pertanyaan dari teman-teman di grup WA petani atau dari pembaca artikel lama: “Mas Bro, sekarang ini provinsi mana sih yang paling gede produksi gula arennya?” 

Dulu jawabannya masih agak bingung. Hal itu karena data tersebar dan banyak yang cuma ngomongin daerah tradisional kayak Lebak, Lombok, atau Toraja. 

Tapi setelah saya cek ulang data terbaru dari BPS dan beberapa laporan resmi tahun 2024–2025. Jawabannya sudah jelas sekali: 

Jawa Timur sekarang memimpin dengan angka yang cukup jauh dari yang lain.

Gula aren dari masa ke masa

Dulu waktu kecil, saya sering lihat bapak-bapak di kampung naik pohon aren pagi-pagi buta, bawa bambu panjang buat nyadap nira. 

Direbus semalaman di tungku kayu bakar, paginya jadi gula cetak cokelat kehitaman atau gula semut yang baunya khas banget. Itu masih tradisi di banyak daerah: Jawa Barat punya gula kawung Cianjur, Sumut punya cap tikus Batak, Sulsel punya gula semut yang diekspor kecil-kecilan. Atau Kalimantan Barat dengan produksi gula aren dari Kapuas Hulu yang cukup terkenal yang diproduksi Keling Kumang Agro, "Enauku".

Baca Koperasi Produsen Keling Kumang Agro Luncurkan Inovasi Produk Aren Sertifikat SNI : Dari Gula Tradisional ke Produk Modern

Tapi sejak sekitar 2022–2023, permintaan meledak gara-gara kopi susu gula aren jadi tren di kota-kota besar. Orang-orang mulai cari yang organik, rendah glikemik, dan “asli Indonesia”. Akibatnya, produksi yang tadinya subsisten (buat sendiri atau jual lokal) berubah jadi semi-bisnis. 

Di Jawa Timur, banyak petani di lereng Gunung Arjuno, Welirang, sampai Semeru yang mulai tanam aren secara lebih teratur, bukan cuma nunggu pohon liar. Hasilnya? Beberapa kelompok tani di Malang dan Banyuwangi sudah kirim kontainer ke luar negeri, ke Belanda, Australia, bahkan Jepang.

Angka BPS yang bikin takjub

Data resmi BPS tahun 2024 (yang saya ambil dari kutipan laporan terpercaya) bilang produksi gula aren nasional naik gila-gilaan: dari cuma ratusan ton di 2023 jadi lebih dari 154 ribu ton di 2024. Lonjakan hampir seribu kali lipat itu memang bikin orang geleng-geleng kepala.

Dari total itu, Jawa Timur nyumbang paling gede: 60.138 ton. Nomor dua Jawa Tengah 51.095 ton, nomor tiga Sumatera Utara 23.160 ton. Sisanya dibagi-bagi ke Sulsel, NTB, dan provinsi lain yang skalanya masih kecil. Jadi kalau ditanya “yang paling banyak”, ya Jatim nomor satu sekarang.

Baca Apai Janggut Menanam Aren, Bukan Sawit

Kenapa bisa begitu? Karena di Jatim infrastrukturnya mendukung: jalan bagus, dekat pelabuhan Surabaya, dekat pabrik kemasan, dan petani cepat belajar bikin gula semut yang halus, kemasan rapi, plus sertifikasi halal. Bandingkan sama daerah lain yang masih pakai cara tradisional dan distribusinya susah.

Apa yang bikin Jatim Unggul?

Jawa Timur unggul dalam hal prodksi gula arena bukan cuma soal alam doang. Memang pohon aren suka tanah vulkanik, curah hujan sedang, dan lereng gunung di Jatim cocok banget. Tapi yang lebih menentukan adalah faktor manusia dan pasar.

  1. Pasar dekat: Surabaya, Malang, bahkan Jakarta gampang dijangkau. Pesanan dari kedai kopi kekinian datang terus.
  2. Adaptasi cepat: Banyak petani yang dulu cuma bikin gula cetak sekarang beralih ke gula semut, pakai mesin penggiling sederhana, kemasan ziplock atau botol kaca.
  3. Dukungan pemerintah daerah: Ada program kehutanan sosial, bantuan bibit aren unggul, pelatihan pengolahan. Di Pacitan misalnya, sudah ada ekspor rutin ke Eropa.

Bandingkan sama Sumatera Utara: kuat di pasar lokal dan cap tikus, tapi belum secepat Jatim nangkep tren nasional. Atau Lebak di Banten: dulu sering disebut juara karena volume ekspor kecil tapi berkualitas, tapi sekarang kalah jauh dalam angka total nasional. Pergeseran ini nyata, bukan isapan jempol.

Tantangan besar,  harapan masih ada

Meski produksi naik, bahan bakunya malah bikin khawatir. Data BPS bilang produksi nira aren turun tajam dari 17 ton lebih di 2022 jadi cuma 1 ton sekian di 2023. Pohon aren butuh 25–30 tahun baru bisa disadap maksimal, tapi anak muda desa jarang mau nerusin. “Capek Mas, panas, penghasilan naik-turun,” kata mereka.

Baca Bibit Aren Unggul Mulai Dikembangkan dan Dipasarkan di Tapang Sambas, Sekadau

Di Jatim sendiri, lahan aren mulai tergerus pembangunan, perkebunan tebu, atau vila-vila di lereng gunung. Kalau regenerasi pohon dan petani tidak dikebut, 5–10 tahun lagi bisa krisis bahan baku.

Tapi saya optimis. Permintaan masih terus naik, baik domestik maupun ekspor. Kalau pemerintah pusat dan daerah serius. Maka ini perlu dilakukan. Bikin klaster industri gula aren, kasih insentif bibit dan mesin, genjot digital marketing lewat marketplace. 

Dan tidak kalah pentingnya adalah mengadakan program magang buat anak muda; niscaya Jatim bisa pertahankan posisinya sekaligus angkat daerah lain. 

Gula aren bukan cuma soal manis di lidah, tapi juga manis buat dompet petani kecil.

Senarai rujukan

Badan Pusat Statistik (BPS), data produksi gula aren 2024 (dikutiplah melalui laporan resmi sekunder).

CNBC Indonesia, 3 Agustus 2025: “Kopi Susu Laris Manis, Produksi Gula Aren RI Melesat 1.000x Lipat”.

Pangannews.id, 4 Agustus 2025: “Di Balik Lonjakan Produksi Gula Aren, Ada Ancaman Krisis Bahan Baku”.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, data luas lahan dan produktivitas aren per provinsi (2023–2024).

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org