Apai Janggut Menanam Aren, Bukan Sawit

Apai Janggut Menanam Aren, Bukan Sawit
Apai Janggut memilih menanam aren, bukan sawit untuk ditanam di Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dok. dayaktoday.com

Apai Janggut memilih menanam aren, bukan sawit. Pilihan itu terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar keputusan bercocok tanam. 

Bagi banyak orang, menentukan jenis tanaman biasanya hanya berkaitan dengan keuntungan ekonomi. Namun bagi Apai Janggut, keputusan itu menyentuh cara memandang tanah, hutan, dan masa depan generasi berikutnya.

Apai Janggut, peraih Kalpataru dan Gulbenkian Prize dari Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga hutan adat. Namanya tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari perjalanan panjang yang dijalani dengan kesabaran dan keyakinan.

Aren atau sawit bukan hanya soal komoditas. Di tangan Apai Janggut, pilihan itu menjadi pernyataan sikap. Sebuah cara menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak harus selalu ditentukan oleh logika keuntungan jangka pendek.

Di tengah gelombang pembangunan yang sering menilai kemajuan dari luas kebun dan besarnya produksi, keputusan menanam aren menjadi semacam pesan yang tenang namun tegas. Ia tidak disampaikan melalui pidato panjang, melainkan melalui tindakan yang berlangsung terus-menerus dari tahun ke tahun.

Aren tumbuh pelan. Ia tidak memberikan hasil secepat tanaman industri lainnya. Tetapi di situlah letak pelajaran pentingnya. Alam memiliki irama sendiri yang tidak selalu sejalan dengan keinginan manusia untuk bergerak cepat.

Kadang-kadang ketenangan justru menyimpan keteguhan yang lebih kuat daripada hiruk-pikuk pembangunan.

Lebih dari Sekadar Gelar

Nama Apai Janggut sering disebut dalam berbagai forum lingkungan hidup. Ia menerima penghargaan seperti Kalpataru dan juga Gulbenkian Prize, sebuah penghargaan internasional yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang berjasa dalam pelestarian lingkungan.

Namun jika hanya berhenti pada daftar penghargaan, kisah yang sebenarnya justru tidak terlihat.

Sering kali masyarakat memandang penghargaan sebagai akhir dari sebuah perjuangan. Setelah trofi diterima dan foto diambil, cerita seolah selesai. Padahal kenyataannya berbeda.

Nama Apai Janggut tidak dibangun oleh trofi atau piagam. Ia terbentuk oleh ketekunan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Musim tanam berganti, tekanan terhadap hutan datang silih berganti, tetapi ia tetap berada di tempatnya.

Hutan di sekitar Sungai Utik menghadapi berbagai perubahan. Sungai tidak selalu jernih seperti masa lalu. Tanah semakin sering diukur dengan peta konsesi dan izin perusahaan.

Di tengah perubahan itu, Apai Janggut tidak memilih pergi. Ia juga tidak memilih menjual tanahnya. Ia tetap tinggal dan menjaga.

Pilihan itu terlihat sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.

Menjaga Hutan sebagai Cara Hidup

Apai Janggut hidup di Sungai Utik, sebuah wilayah yang masih mempertahankan tradisi rumah panjang masyarakat Iban. Di tempat seperti itu, hubungan antara manusia dan alam masih terasa nyata.

Hutan bukan sekadar latar belakang kehidupan. Ia menjadi bagian dari keseharian.

Bagi Apai Janggut, hutan bukan sekadar objek yang indah untuk diceritakan. Hutan adalah dapur tempat kehidupan disiapkan. Ia juga menjadi ruang belajar tempat orang memahami tanda-tanda alam.

Lebih dari itu, hutan adalah sumber nilai yang mengajarkan keseimbangan hidup.

Pandangan yang sama juga berlaku terhadap tanah. Tanah tidak dipahami sebagai barang yang bisa diperjualbelikan begitu saja. Dalam pandangan masyarakat Dayak, tanah adalah ibu yang memberi kehidupan.

Karena itu ia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai komoditas ekonomi.

Kesadaran semacam inilah yang membuat Apai Janggut memilih bertahan. Ia memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan yang lebih luas daripada kepentingan pribadi.

Ketika Uang Datang Menawarkan

Perusahaan sawit pernah datang dengan tawaran besar. Nilainya tidak kecil. Bagi banyak orang, jumlah itu mungkin cukup untuk mengubah kehidupan dalam waktu singkat.

Namun Apai Janggut memandangnya dengan cara berbeda.

Bagi dirinya, uang memiliki sifat yang datang dan pergi. Ia tidak selalu bisa menggantikan sesuatu yang hilang, terutama ketika yang dipertaruhkan adalah hutan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada suatu malam di Sungai Utik, ia menyampaikan pandangannya dengan kalimat yang sederhana. Berapa pun nilai yang ditawarkan, hutan itu tidak akan dijual.

Alasannya juga sederhana. Hutan tersebut bukan miliknya seorang diri.

Hutan adalah milik anak cucu yang akan hidup di masa depan.

Dalam dunia yang sering mengukur segala sesuatu dengan angka, pernyataan seperti itu terdengar tidak biasa. Namun justru di situlah kekuatan sikap Apai Janggut.

Ia tidak perlu berteriak menentang siapa pun. Ia hanya mengatakan tidak.

Sering kali penolakan yang disampaikan dengan tenang justru memiliki kekuatan moral yang lebih besar.

Aren sebagai Simbol Kesabaran

Di tengah kecenderungan untuk memilih tanaman yang cepat menghasilkan, Apai Janggut tetap menanam aren.

Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terlihat kurang praktis. Aren memerlukan waktu panjang untuk tumbuh dan menghasilkan.

Namun tanaman ini memiliki karakter yang berbeda dari tanaman industri berskala besar. Aren bisa hidup berdampingan dengan hutan. Ia tidak memerlukan pembukaan lahan luas yang merusak ekosistem.

Manfaatnya juga banyak. Nira dapat diolah menjadi gula, batangnya memiliki nilai ekonomi, dan daunnya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menanam aren, Apai Janggut menunjukkan bahwa pertanian tidak harus selalu identik dengan eksploitasi alam.

Tanaman itu menjadi simbol kesabaran sekaligus kebijaksanaan. Ia mengajarkan bahwa hasil yang baik sering kali membutuhkan waktu.

Di tengah budaya yang menginginkan segala sesuatu serba cepat, pilihan ini terasa seperti pengingat bahwa keberlanjutan tidak lahir dari proses yang tergesa-gesa.

Teladan yang Tenang

Di zaman ketika isu lingkungan sering dibicarakan dengan suara keras, Apai Janggut menunjukkan cara yang berbeda. Ia tidak mengandalkan slogan atau kampanye besar.

Ia menjalani keyakinannya melalui tindakan sehari-hari.

Menjaga hutan, merawat tanah, dan menanam pohon adalah bagian dari kehidupannya. Ia percaya bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan.

Jika alam rusak, manusia juga akan merasakan akibatnya.

Kesadaran ini terlihat dalam kehidupan yang dijalaninya di Sungai Utik. Kehidupan itu sederhana, tetapi penuh makna.

Apai Janggut tidak mengejar popularitas. Ia juga tidak berusaha menjadi tokoh besar. Namun melalui sikap yang konsisten, ia menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu harus tampil dengan suara keras.

Kadang-kadang keberanian justru hadir dalam kesetiaan terhadap nilai yang diyakini benar.

Menjaga Masa Depan

Kisah Apai Janggut mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu harus berarti meninggalkan cara hidup lama. Dalam beberapa hal, justru kearifan tradisional membantu manusia menjaga keseimbangan.

Tanpa orang-orang yang memilih menjaga hutan, banyak kawasan alam mungkin sudah lama hilang.

Sungai bisa berubah menjadi aliran keruh yang kehilangan kehidupan. Hutan bisa berubah menjadi lahan kosong tanpa keberagaman hayati.

Apai Janggut tidak menulis teori tentang lingkungan hidup. Ia juga tidak membuat konsep akademik yang rumit.

Ia hanya menjalani hidup dengan keyakinan sederhana: menjaga alam berarti menjaga kehidupan manusia itu sendiri.

Aren yang ia tanam di Sungai Utik akan terus tumbuh. Pohon-pohon itu mungkin akan menaungi generasi yang belum lahir hari ini.

Suatu hari orang mungkin tidak lagi mengingat kapan pohon-pohon itu ditanam. Namun mereka akan melihat bahwa hutan itu tetap berdiri.

Di balik keberadaan hutan itu, ada seorang lelaki Iban yang memilih jalan berbeda.

Ia tidak mengikuti arus yang bergerak terlalu cepat. Ia memilih berjalan dengan ritme alam, menjaga tanah, dan merawat hutan sebagai warisan bersama.

Itulah Apai Janggut, penjaga hutan dari Sungai Utik yang mengajarkan bahwa masa depan tidak selalu dibangun dengan kecepatan, melainkan dengan kesetiaan menjaga bumi.

Penulis: Maria Amanda
Editor: Masri Sareb Putra

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org