Rumah Pinang yang Tumbuh Diam di Perbatasan (3): Pinang yang Jadi Hiasan Halaman Rumah
| Pinang yang tumbuh dan jadi hiasan di halaman rumah orang Dayak.Dokpri. |
Oleh Masri Sareb Putra
Pinang, Areca catechu, berdiri tegak di banyak halaman rumah orang Dayak di Kalimantan Barat.
Pohon pinang tidak ditanam dalam barisan rapi, tidak pula dirawat dengan perlakuan khusus. Pohon pinang tumbuh begitu saja, menjadi bagian alami dari ruang hidup yang lapang itu.
Dari pohon pinang inilah, penulis mulai membaca lanskap yang lebih luas tentang bagaimana manusia dan alam saling berdampingan tanpa banyak tuntutan.
Pagi itu, penulis berdiri di sebuah perkampungan Dayak. Tidak ada kesan sempit, tidak pula hiruk-pikuk yang menekan. Rumah-rumah berdiri dengan jarak yang wajar, tidak saling berhimpitan, seolah setiap keluarga diberi ruang untuk bernapas bersama alam.
Halaman terbuka lebar, tanpa pagar tinggi yang membatasi pandangan. Dari beranda, mata bisa langsung menjangkau kebun, pepohonan, hingga batas rimba yang samar di kejauhan.
Di tempat seperti ini, hidup tidak dibingkai oleh tembok, melainkan oleh lanskap. Anak-anak berlari tanpa takut, orang tua duduk santai sambil memandang tanaman yang tumbuh tanpa banyak diatur. Rasa cukup hadir tanpa banyak kata. Alam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memberi tanpa selalu diminta.
Namun justru dari pohon pinang yang dibiarkan itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam. Mengapa yang tumbuh subur tidak selalu dipanen. Mengapa yang berbuah tidak selalu dimanfaatkan. Pertanyaan itu menggantung, pelan, tetapi terus mengikuti langkah penulis menyusuri kampung.
Yang tumbuh dan yang tidak dikejar
Di halaman-halaman itu, pohon pinang bukan satu-satunya yang tumbuh tanpa perhatian. Pisang, kelapa, dan berbagai tanaman lain hidup berdampingan, membentuk kebun yang tidak pernah benar-benar dirancang. Sebagian besar tanaman hadir dari siklus alam, dari buah yang jatuh, lalu tumbuh kembali.
Namun pohon pinang memiliki kehadiran yang khas. Batang pohon pinang lurus, tinggi, dan sulit diabaikan. Buah pinang menggantung dalam tandan yang padat, berwarna jingga ketika matang. Secara kasat mata, buah pinang menawarkan hasil yang bisa diambil. Namun di banyak tempat, buah pinang tetap dibiarkan.
Baca Rumah Pinang yang Tumbuh Diam di Perbatasan (1): Belajar Ulet dari Ranah Minang
Penulis melihat beberapa buah pinang jatuh ke tanah. Tidak ada warga yang memungut buah pinang. Tidak ada keranjang yang menampung buah pinang. Buah pinang jatuh, lalu perlahan membusuk. Siklus itu berlangsung tanpa campur tangan.
“Dari dulu begitu,” kata Langkui, seorang warga. Kalimat sederhana itu seperti menutup pembicaraan. Tidak ada dorongan untuk mengubah kebiasaan, tidak pula keinginan untuk mengejar nilai dari setiap tanaman yang tumbuh.
Komoditas yang belum bertemu pembeli
Di titik ini, pohon pinang menjadi lebih dari sekadar tanaman. Pohon pinang menjadi penanda cara pandang. Dalam kehidupan masyarakat Dayak, alam tidak selalu dilihat sebagai sesuatu yang harus dioptimalkan secara ekonomi. Ada ruang untuk membiarkan alam berjalan sesuai siklusnya.
Namun di sisi lain, dunia di luar terus bergerak. Buah pinang di berbagai daerah telah menjadi komoditas. Buah pinang dikumpulkan, diolah, dan dijual, bahkan menjadi bagian dari perdagangan yang melibatkan banyak pihak. Nilai ekonomi buah pinang tidak kecil.
Di perkampungan ini, nilai ekonomi buah pinang seperti belum dipanggil. Nilai itu ada, tetapi belum dihadirkan dalam praktik sehari-hari.
Pengetahuan tentang nilai pinang mungkin sudah sampai, tetapi belum menjadi kebiasaan. Di sinilah jarak antara potensi dan realitas terasa nyata.
Penulis tidak melihat kondisi ini sebagai keterlambatan. Kondisi ini lebih tepat dipahami sebagai pilihan hidup yang berbeda. Namun pilihan hidup ini tidak berdiri sendiri. Pilihan hidup ini akan terus bersentuhan dengan perubahan zaman yang bergerak perlahan.
Pinang, dari dibiarkan ke diberdayakan
Pohon pinang yang dibiarkan itu, pada akhirnya, membuka kemungkinan baru. Kemungkinan bukan untuk mengubah wajah kampung secara drastis, tetapi untuk menambahkan makna pada apa yang sudah ada. Halaman yang luas, pohon yang tumbuh, dan buah yang jatuh, semuanya bisa dibaca ulang.
Penulis membayangkan suatu saat, buah pinang mulai dipungut oleh warga. Buah pinang tidak harus diolah dalam skala besar.
Buah pinang cukup dikumpulkan, dijemur, lalu dijual sebagai bagian dari komoditas lokal khas Indonesia. Proses sederhana dapat menghadirkan nilai tambahan.
Jika proses itu terjadi, pohon pinang tidak lagi hanya menjadi penghias halaman. Pohon pinang menjadi penghubung antara tradisi dan kebutuhan baru. Pohon pinang tetap tumbuh alami, tetapi tidak lagi sepenuhnya dibiarkan tanpa makna ekonomi.
Perubahan seperti ini tidak harus datang dari luar. Perubahan dapat dimulai dari halaman sendiri.
Dari satu pohon pinang yang selama ini hanya dilihat, lalu perlahan mulai dimaknai sebagai sumber kehidupan baru.
(Bersambung)