Petrus Gunarso: Selamatkan Pinang dari Tradisi Panjat Pinang 17 Agustusan
| Petrus Gunarso menyayangkan ribuan batang pinang ditebang setiap jelang 17 Agustuan: Lha, siapa yang nanam untuk gantinya? Dokpen. |
Setiap bulan Agustus, suasana perayaan kemerdekaan terasa di seluruh penjuru negeri. Namun, korbannya jatuh banyak: ribuan pohon pinang ditebang, hanya untuk keramaian di bulan itu saja.
Di gang-gang kecil, di halaman kantor, di lapangan desa, hingga di kawasan kota besar seperti Jakarta, masyarakat berkumpul merayakan hari lahir bangsa. Bendera merah putih berkibar. Musik perjuangan diputar. Anak-anak berlarian. Orang dewasa tertawa.
Salah satu lomba yang paling meriah adalah panjat pinang.
Panjat pohon pinang: apa gantinya?
Tiang tinggi pinang yang dilumuri oli atau gemuk berdiri tegak di tengah keramaian. Di puncaknya digantung aneka hadiah: sepeda, peralatan rumah tangga, hingga uang tunai. Peserta berlomba membentuk “menara manusia” untuk mencapai hadiah tersebut. Teriakan penonton menggema setiap kali ada peserta yang tergelincir atau hampir mencapai puncak.
Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun. Bahkan, panjat pinang menjadi ikon perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Namun, di balik kegembiraan itu, ada satu kenyataan yang jarang dibicarakan: setiap tahun ribuan batang pohon pinang ditebang hanya untuk menjadi tiang lomba.
Pohon pinang yang sebenarnya masih produktif ditebang, dipotong, dibawa ke kota, lalu digunakan hanya beberapa jam. Setelah lomba selesai, batang pinang itu biasanya dibuang atau dibiarkan membusuk.
Tradisi yang dimaksudkan untuk merayakan kemerdekaan justru menyisakan pertanyaan: apakah kita perlu menebang pohon produktif hanya demi sebuah lomba?
Pertanyaan ini semakin penting ketika kita menyadari bahwa pinang bukan sekadar pohon biasa. Pinang adalah komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi.
Dengan kata lain, setiap batang pinang yang ditebang bukan hanya kehilangan pohon. Ia juga kehilangan potensi ekonomi jangka panjang bagi petani.
Berapa Banyak Pinang Hilang Setiap Agustus?
Angka pasti memang sulit diperoleh. Tidak ada catatan resmi berapa batang pinang ditebang setiap tahun untuk lomba panjat pinang.
Namun, beberapa data lapangan memberikan gambaran yang cukup jelas.
Seorang pedagang pinang di kawasan Manggarai, Jakarta, misalnya, pernah menjual sekitar 340 batang pinang pada tahun 2022. Pada tahun berikutnya, sekitar 70 batang pinang masih terjual untuk kebutuhan lomba.
Angka ini baru berasal dari satu pedagang.
Sementara itu, acara besar seperti perayaan di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol pernah menyiapkan 51 batang pinang pada tahun 2023. Bahkan pada tahun sebelumnya jumlahnya mencapai 188 batang.
Sekarang ini skala kota.
Jakarta memiliki lebih dari 2.700 RW. Jika hanya 10 persen saja yang mengadakan lomba panjat pinang menggunakan pohon asli, maka kebutuhan batang pinang bisa mencapai 1.000 hingga 3.500 batang setiap tahun.
Itu baru satu kota.
Jika tradisi yang sama terjadi di kota-kota lain di Indonesia, jumlah pohon pinang yang ditebang tentu jauh lebih besar.
Padahal, sebagian besar pinang yang digunakan adalah pohon produktif yang sebenarnya masih dapat menghasilkan buah selama puluhan tahun.
Dengan kata lain, setiap batang pinang yang ditebang bukan sekadar kayu yang hilang. Ia adalah sumber pendapatan yang dipotong sebelum waktunya.
Pohon Palma yang Sering Diremehkan
Banyak orang memandang pinang hanya sebagai pohon ramping yang tumbuh di pekarangan atau di tepi kebun. Ia tidak sepopuler kelapa. Ia tidak semegah pohon aren. Ia juga tidak sefenomenal kelapa sawit.
Namun, pinang memiliki nilai ekonomi yang tidak kecil.
Secara ilmiah, pohon ini dikenal sebagai Areca catechu. Di berbagai daerah, bijinya digunakan sebagai bahan obat tradisional, bahan industri, hingga konsumsi dalam tradisi budaya tertentu.
Pinang memiliki umur produktif yang panjang
Pohon ini mulai berbuah pada usia sekitar 4 sampai 8 tahun. Produksi terbaik biasanya terjadi pada usia 10 hingga 15 tahun. Setelah itu, pohon pinang masih dapat terus berbuah hingga 40 bahkan 60 tahun.
Artinya, satu batang pinang yang ditebang hari ini sebenarnya bisa menghasilkan buah selama beberapa dekade ke depan.
Dari sisi ekonomi, nilai pinang juga tidak kecil.
Data perdagangan menunjukkan bahwa ekspor pinang Indonesia pada tahun 2023 mencapai sekitar USD 127 juta. Dalam lima bulan pertama tahun 2024 saja, nilainya sudah menembus USD 49 juta.
Pasar utamanya datang dari negara-negara seperti India, Bangladesh, dan sejumlah kawasan di Timur Tengah.
Bagi banyak petani di pedesaan, pinang adalah sumber pendapatan tambahan yang penting.
Lebih menarik lagi, hampir semua bagian pohon pinang memiliki manfaat.
Buah pinang dapat diolah menjadi bahan obat, bahan industri farmasi, hingga komoditas ekspor. Batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan ringan. Daun dan pelepahnya bisa diolah menjadi kerajinan atau piring ramah lingkungan.
Dengan manfaat yang seluas ini, menebang pohon pinang produktif hanya untuk lomba beberapa jam terasa sangat disayangkan.
Tradisi Tetap Hidup, Pohon Tetap Tumbuh
Tradisi panjat pinang tidak perlu dihapus
Tradisi adalah bagian dari identitas budaya. Pinang terbukti dapat menyatukan masyarakat. Ia menciptakan kegembiraan bersama.
Namun, tradisi juga perlu beradaptasi dengan kesadaran baru.
Jika dahulu menebang pinang dianggap hal biasa, kini masyarakat mulai memahami bahwa setiap pohon memiliki nilai ekonomi dan ekologis.
Karena itu, solusi yang lebih bijak perlu dipikirkan.
Alternatif pertama adalah menggunakan bambu atau tiang besi yang dapat digunakan berulang setiap tahun. Cara ini sudah mulai dipraktikkan di beberapa tempat. Selain lebih hemat, cara ini juga tidak merusak kebun pinang.
Alternatif kedua adalah menggunakan pohon pinang afkir dari kebun. Misalnya, pohon yang sudah tua, tumbang, atau tidak lagi produktif.
Alternatif ketiga adalah membangun bank batang pinang di daerah produsen. Dengan sistem ini, pohon yang memang sudah harus ditebang dapat dimanfaatkan untuk lomba tanpa merusak kebun produktif.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan gagasan “Panca Palma” yang diperkenalkan oleh Petrus Gunarso. Konsep ini menyebut lima palma strategis Indonesia: sawit, aren, kelapa, sagu, dan pinang.
Petrus Gunarso: panjat pinang tanpa menebang pinang, gunakan batang-panjat besi. Dokpen.
Kelima tanaman ini memiliki potensi besar dalam mendukung ekonomi nasional sekaligus kesejahteraan petani.
Dalam kerangka itu, pinang tidak lagi dipandang sekadar sebagai tiang lomba panjat pinang. Ia adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi.
Jika dikelola dengan baik, pinang dapat menjadi salah satu sumber devisa negara sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Karena itu, setiap bulan Agustus, ketika kita menyaksikan lomba panjat pinang, ada satu pertanyaan sederhana yang patut diajukan.
Apakah tiang yang kita panjat berasal dari pohon produktif yang ditebang?
Atau dari alternatif yang lebih bijak?
Perayaan kemerdekaan seharusnya tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga menjaga masa depan.
Dan masa depan itu, sering kali, berdiri tegak seperti pohon pinang: ramping, sederhana, tetapi menyimpan nilai yang besar bagi kehidupan rakyat.
Penulis: Rangkaya Bada