Petrus Gunarso: Motor Riset dan Penerbitan serial Buku "Palma Tropika Indonesia untuk Dunia"

 

Petrus Gunarso, motor penggerak serial buku Palma Tropika Indonesia untuk Dunia
Petrus Gunarso, motor penggerak riset dan penerbitan serial buku Palma Tropika Indonesia untuk Dunia. Dok. Iposs.

Oleh Masri Sareb Putra

Petrus GunarsoNama itu bergerak pelan, namun pasti. Kini terbit 2 buku dari 5 seri Palma Tropika Indonesia untuk Dunia, yakni Sawit dan Sagu. Buku ke-3, Kelapa, sedang disiapkan pada ketika ini.

Nama Petrus Gunarso memang tidak meledak. Tidak pula riuh. Tetapi jejaknya panjang. Mengakar. Ia datang dari dunia yang sunyi. Hutan. Rimba. Tempat pohon-pohon berbicara tanpa suara. Tempat waktu tidak diukur oleh jam. tetapi oleh musim. oleh daun yang gugur. oleh tanah yang menyimpan ingatan.

Dari sana Gunarso belajar. Tentang keseimbangan. Tentang batas yang tidak boleh dilanggar. Tentang kesabaran yang tidak menuntut hasil cepat. Hutan mengajarinya bahwa segala sesuatu tumbuh dalam diam. Bahwa yang kuat bukan yang bising. tetapi yang bertahan.

Gelar akademik boleh berderet. Ir. M.Sc. Ph.D. IPU. Tetapi bagi Petrus Gunarso. itu bukan mahkota. Itu alat. Itu jembatan. Untuk masuk lebih dalam ke tubuh pengetahuan. Untuk menyentuh persoalan yang sering disederhanakan. Ia tidak berhenti pada angka. Tidak berhenti pada laporan. Ia mencari makna di balik semua itu.

Di titik ini. ia bukan sekadar teknokrat. Ia bukan sekadar peneliti. Ia adalah perawat makna. Ia membaca rimba seperti orang membaca kitab. Perlahan. Penuh hormat. Tanpa tergesa.

Ilmu yang menyeberangi benua

Perjalanan ilmunya tidak pendek. Ia menyeberang. Bukan hanya secara geografis. tetapi juga secara cara pandang. Dari Yogyakarta. di Universitas Gadjah Mada. ia memulai. Di sana. kehutanan bukan hanya disiplin ilmu. tetapi juga panggilan.

Ia belajar tentang pohon. tentang tanah. tentang hubungan manusia dengan alam. Tetapi ia tidak berhenti di sana. Dunia terlalu luas untuk dipahami dari satu sudut. Maka ia melangkah lebih jauh.

Amerika. Michigan State University. Di sana. cakrawala itu melebar. Fisheries and wildlife membuka perspektif baru. Bahwa kehidupan tidak berdiri sendiri. Semua terhubung. Air. hutan. satwa. manusia. Satu rusak. yang lain ikut goyah.

Lalu Australia. The University of Queensland. Brisbane. Di titik ini. pengetahuan itu dipertajam. Forestry. Natural Resources Management and Policy. Bukan hanya soal apa yang ada di hutan. tetapi bagaimana mengelolanya. bagaimana membuat kebijakan. bagaimana menjaga agar kepentingan ekonomi tidak menelan habis masa depan.

Ia menempuh doktor. Bukan untuk gelar. tetapi untuk kedalaman. Untuk memahami bahwa di balik setiap kebijakan. ada konsekuensi panjang. Ada kehidupan yang dipertaruhkan.

Ilmu baginya bukan menara gading. Ia bukan tempat untuk berdiri tinggi. Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk kembali ke tanah. ke hutan. ke manusia. Dengan pemahaman yang lebih utuh.

Antara Dewan. Sawit. dan Tanggung Jawab

Di ruang-ruang yang sering dingin. ruang rapat. ruang kebijakan. Petrus Gunarso hadir. Tidak sebagai penguasa. tetapi sebagai penjaga arah. Di Iposs, Petrus Gunarso pelaksana tugas pemetaan Sawit Indonesia1985 - 2025. Adapun  Ketua Dewan IPOSS adalah Dr. Darmin Nasution dan Dr. Sofyan Jalil.

Peran itu tidak ringan. Sebab di sana. keputusan tidak selalu hitam putih. Ada kepentingan. Ada tekanan. Ada tarik-menarik antara ekonomi dan ekologi.

Di Rumah Sawit Indonesia. ia berdiri di titik yang sering disalahpahami. Sawit. Kata yang memancing perdebatan. Di satu sisi. ia menjadi penopang ekonomi. Di sisi lain. ia dituduh merusak lingkungan.

Petrus Gunarso tidak memilih jalan mudah. Ia tidak menolak. Ia juga tidak membenarkan tanpa kritik. Ia tinggal di tengah. Mengurai. Menimbang. Mencari jalan yang tidak merugikan masa depan.

Keahlian itu bukan datang tiba-tiba. Ia ditempa. Dari pengalaman panjang. Dari penelitian. Dari keterlibatan langsung di lapangan. Nonprofit organizations. Pembangunan berkelanjutan. Corporate social responsibility. Forest management. Biodiversity. Semua itu bukan sekadar istilah. Itu medan kerja. Itu kenyataan yang harus dihadapi.

Di sana. ia belajar bahwa keberlanjutan bukan slogan. Ia adalah pilihan yang harus diperjuangkan. Hari demi hari. keputusan demi keputusan.

Dayak dan jalan pulang literasi

Namun hidup tidak hanya soal kebijakan. Tidak hanya soal angka. Ada ruang lain yang lebih sunyi. tetapi tidak kalah penting. Kata. Buku. Ingatan.

Petrus Gunarso masuk ke ruang itu. Ia menjadi bagian dari Penerbit Lembaga Literasi Dayak. Sebagai board of director. Ia tidak sekadar duduk. Ia bekerja. Ia mendorong. Ia membuka jalan.

Passion itu jelas. Memajukan penerbitan. Memperluas distribusi. Agar buku-buku yang diteliti dan ditulis para cendekiawan Dayak tidak berhenti di rak. Tidak hilang dalam keterbatasan akses.

Ia memahami satu hal sederhana. Tetapi sering dilupakan. Bahwa tanpa tulisan. suatu bangsa mudah dilupakan. Bahwa tanpa buku. identitas bisa tergerus.

Masri Sareb Putra pernah memberinya julukan ini "Jawa Berhati Dayak". Ungkapan itu sederhana. tetapi dalam. Ia menunjukkan bahwa identitas tidak selalu soal asal. Tetapi soal keberpihakan. soal pilihan untuk merawat.

Di sini. Petrus Gunarso memilih. Ia tidak berdiri di luar. Ia masuk. Ia menjadi bagian dari upaya menjaga narasi Dayak. agar tetap hidup. agar tidak ditulis oleh orang lain saja.

Kini ia merancang satu ruang yang lebih konkret. Rumah Buku Dayak. Sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan buku. tetapi juga menyimpan masa depan. Dirancang hadir dekat pusat kota pelajar. Yogyakarta. Sebuah kota yang sejak lama menjadi simpul pengetahuan.

Rumah itu akan menjadi titik temu. Penulis. pembaca. peneliti. mahasiswa. Semua bertemu di sana. Buku tidak lagi sunyi. Ia menjadi hidup. Ia berdialog. Ia bergerak.

Dan di tengah semua itu. lahir satu gagasan yang lebih luas. Lebih dalam. Panca Ppalma. Palma Tropika Indonesia untuk Dunia.

Ini bukan sekadar seri buku. Ini visi. Ini cara melihat kembali kekayaan tropika Indonesia. Palma. Yang sering dianggap biasa. Padahal ia hadir di banyak sisi kehidupan.

Sawit. Sagu. Kelapa. Aren. Pinang. Lima entitas. Lima dunia. Lima cerita yang saling terhubung.

Petrus Gunarso merancangnya sebagai seri. Panca Palma. Lima buku. Lima pijakan. Untuk memahami bahwa palma bukan hanya komoditas. Ia adalah peradaban. Ia adalah sumber pangan. energi. budaya.

Dua telah terbit. Sawit. dan Sagu. Dua kata yang sering diperdebatkan. tetapi jarang dipahami secara utuh. Dalam tangan yang tepat. keduanya menjadi bahan refleksi. Menjadi ruang dialog.

Sawit tidak lagi hanya dilihat sebagai industri. Sagu tidak lagi dianggap pangan pinggiran. Keduanya diangkat. Diberi konteks. Diberi suara.

Tiga lainnya menyusul. Pelan. Tetapi pasti. Seperti pohon yang tumbuh. Tidak tergesa. tetapi kokoh.

Di sini. Petrus Gunarso melakukan sesuatu yang jarang. Ia menjembatani ilmu. kebijakan. dan literasi. Ia menghubungkan hutan dengan buku. lapangan dengan tulisan.

Petrus Gunarso memastikan bahwa pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik. Tetapi turun. Menyentuh publik. Menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Semua kembali ke satu hal. Merawat.

Merawat hutan. agar tidak habis.

Merawat pengetahuan. agar tidak hilang.

Merawat narasi. agar tidak dimonopoli.

Dan dalam semua itu. Petrus Gunarso berjalan. Tidak tergesa. Tidak mencari sorotan. Tetapi pasti.

Ia tahu. bahwa perubahan besar tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia tumbuh seperti pohon. Diam. tetapi kuat.

Dan mungkin. di situlah letak maknanya. Ia tidak hanya menjaga rimba. Ia membaca zaman. Ia menulisnya kembali. Dalam kebijakan. dalam buku. dalam kerja yang terus berjalan.

Pelan. Tetapi teguh. Ia menjadi seperti apa yang diinginkan orangtua, yang memberinya nama : Petrus Gunarso. Seteguh baru karang, petra. Dan berdaya-guna ing arso!

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org