Bagaikan Pinang Dibelah Dua: Metafora Alam dalam Bahasa Nusantara
"Bagaikan pinang dibelah dua" ftrasa yang lahir dari fakta dan pengalaman. Ist.
Pohon pinang berdiri tegak di halaman rumah di kampung dan desa-desa Nusantara. Batang pohon pinang lurus dan ramping. Pucuk pohon pinang bergoyang perlahan ketika angin melintas.
Bagi masyarakat desa, pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang istimewa. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari keseharian.
Buah pinang tumbuh bergerombol di bawah pelepah daun. Ketika buah pinang matang, warna kulit buah berubah dari hijau menjadi jingga kemerahan.
Anak-anak kampung sering memungut buah yang jatuh. Orang dewasa memetik buah yang masih bergantung di pohon.
Dalam ilmu botani, buah pinang dikenal dengan nama "areca catechu". Namun bagi masyarakat Nusantara, buah pinang bukan sekadar objek ilmu pengetahuan. Buah pinang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan sosial dan budaya.
Di banyak wilayah Indonesia, buah pinang dipadukan dengan daun sirih dan kapur untuk dikunyah bersama. Tradisi mengunyah sirih pinang sudah berlangsung sangat lama. Tradisi tersebut bahkan telah dikenal jauh sebelum lahirnya negara-negara modern di Asia Tenggara.
Sirih pinang sering hadir dalam pertemuan sosial. Tamu yang datang disambut dengan suguhan sirih pinang. Percakapan biasanya dimulai setelah sirih pinang dibuka dan dibagikan. Dalam beberapa masyarakat adat di Kalimantan, Sumatra, dan Nusa Tenggara, sirih pinang menjadi tanda penerimaan dan persahabatan.
Di ruang sosial yang sederhana seperti itulah bahasa sering lahir.
Orang duduk di beranda rumah. Orang berbicara tentang keluarga, ladang, perjalanan, atau cerita tentang orang-orang yang dikenal. Dari percakapan yang tampak biasa itu, muncul berbagai ungkapan yang kemudian bertahan lama dalam ingatan budaya.
Salah satu ungkapan yang lahir dari pengamatan sehari-hari adalah frasa bagaikan pinang dibelah dua.
Ugkapan tersebut berasal dari pengalaman sederhana melihat buah pinang yang dibelah.
Pengamatan yang menjadi metafora
Bahasa sering lahir dari pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Orang Nusantara tidak selalu merumuskan gagasan dalam bentuk definisi ilmiah. Orang Nusantara lebih sering menggunakan perbandingan yang mudah dibayangkan.
Ketika buah pinang dibelah, dua bagian yang muncul terlihat hampir sama. Bentuk kedua belahan buah pinang tampak serupa. Garis-garis di dalam biji pinang memperlihatkan pola yang hampir identik. Mata manusia segera menangkap kesamaan tersebut.
Pengamatan sederhana seperti itu memunculkan sebuah perbandingan yang kuat.
Apabila dua orang memiliki wajah yang sangat mirip, masyarakat Nusantara tidak selalu menjelaskan kemiripan tersebut dengan uraian panjang. Masyarakat cukup mengatakan bahwa kedua orang itu "bagaikan pinang dibelah dua".
Ungkapan tersebut bekerja seperti gambar kecil dalam bahasa. Begitu seseorang mendengar frasa tersebut, pikiran segera membayangkan buah pinang yang terbelah rapi. Dua bagian terlihat hampir sama. Perbedaan mungkin ada, tetapi mata manusia lebih dahulu menangkap kemiripannya.
Di situlah kekuatan metafora bekerja.
Bahasa tidak selalu menjelaskan sesuatu secara teknis. Bahasa sering menghadirkan gambaran yang hidup dalam ingatan.
Peribahasa Melayu, yang kemudian menjadi bagian dari bahasa Indonesia, banyak memanfaatkan gambaran alam seperti ini. Alam menjadi sumber metafora. Hutan, sungai, hewan, dan tumbuhan menjadi bahan perbandingan yang mudah dipahami.
Ungkapan "bagaikan pinang dibelah dua" lahir dari logika yang sama. Orang melihat sesuatu di alam, lalu menggunakan gambaran tersebut untuk menjelaskan pengalaman manusia.
Bahasa dengan demikian menjadi semacam jembatan antara dunia alam dan dunia sosial.
Pinang dalam Tradisi Sosial Nusantara
Kehadiran pinang dalam bahasa tidak dapat dipisahkan dari kedudukan pinang dalam budaya masyarakat. Buah kecil tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial di berbagai daerah Nusantara.
Dalam tradisi Melayu, sirih pinang sering disuguhkan kepada tamu sebagai tanda penghormatan. Dalam beberapa komunitas Dayak di Kalimantan, sirih pinang hadir dalam percakapan adat maupun pertemuan keluarga. Di beberapa wilayah Indonesia Timur, kebiasaan mengunyah pinang bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketika suatu benda begitu dekat dengan kehidupan masyarakat, benda tersebut mudah berubah menjadi simbol bahasa.
Orang lebih mudah memahami peribahasa yang menggunakan contoh dari lingkungan yang dikenal. Karena itu banyak ungkapan dalam bahasa Nusantara mengambil bahan dari alam sekitar.
Hutan memberi metafora tentang keteguhan. Sungai memberi metafora tentang perjalanan hidup. Tumbuhan memberi metafora tentang pertumbuhan dan keserupaan.
Buah pinang kemudian menjadi salah satu simbol yang dipakai untuk menggambarkan kemiripan.
Peribahasa semacam ini tidak lahir dari keputusan resmi atau dari buku tata bahasa. Peribahasa lahir perlahan melalui percakapan. Seseorang mengucapkan sebuah perbandingan. Orang lain mendengar dan mengulang perbandingan tersebut. Lama kelamaan ungkapan itu menjadi bagian dari bahasa bersama.
Proses tersebut menunjukkan bahwa bahasa sebenarnya merupakan hasil pengalaman kolektif masyarakat.
Bahasa tidak hanya disusun oleh ahli bahasa. Bahasa juga dibentuk oleh petani, nelayan, ibu rumah tangga, dan orang-orang biasa yang mengamati kehidupan sehari-hari.
Bahasa sebagai penyimpan ingatan budaya
Ungkapan "bagaikan pinang dibelah dua" memperlihatkan cara masyarakat Nusantara memahami dunia. Dalam banyak kebudayaan lokal, manusia tidak dipisahkan dari alam. Alam menjadi sumber pelajaran sekaligus sumber bahasa.
Orang belajar tentang kehidupan dari hal-hal sederhana yang terlihat setiap hari. Pohon yang tumbuh di halaman rumah memberi gambaran tentang keteguhan. Sungai yang mengalir memberi gambaran tentang perjalanan waktu. Buah pinang yang dibelah memberi gambaran tentang kemiripan.
Pengalaman melihat alam kemudian disimpan dalam bentuk ungkapan.
Peribahasa Melayu penuh dengan gambaran seperti itu. Beberapa ungkapan menggambarkan kehati-hatian. Beberapa ungkapan menggambarkan kerja sama. Beberapa ungkapan lain menggambarkan kesamaan atau kemiripan.
Frasa "bagaikan pinang dibelah dua" menjadi salah satu contoh yang paling dikenal.
Hal yang menarik adalah bahwa ungkapan tersebut tetap dipahami hingga sekarang. Banyak orang mungkin tidak lagi akrab dengan kebiasaan mengunyah sirih pinang. Namun gambaran tentang pinang yang terbelah tetap hidup dalam bahasa.
Bahasa memiliki kemampuan menyimpan simbol lebih lama daripada pengalaman langsung manusia.
Ungkapan yang lahir dari fakta dan pengalaman
Ungkapan yang lahir ratusan tahun lalu masih dapat digunakan dalam percakapan modern. Kata-kata menjadi semacam wadah yang menyimpan ingatan kolektif masyarakat.
"Bagaikan pinang dibelah dua" adalah frasa yang menunjukkan bagaimana bahasa Nusantara berkembang dari pengalaman hidup yang sederhana. Seseorang melihat buah pinang yang dibelah.
Pengamatan tersebut kemudian berubah menjadi perbandingan. Perbandingan itu diingat, diulang, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari peristiwa kecil di halaman rumah lahirlah sebuah ungkapan yang bertahan lama dalam bahasa Indonesia.
Bahasa Nusantara memang sering tumbuh dengan cara seperti itu. Bahasa berkembang dari kehidupan sehari-hari. Bahasa menyimpan pengalaman manusia dalam bentuk metafora yang sederhana, tetapi kaya makna.
Penulis: Rangkaya Bada